Saya masih mengingat sepercik kenangan saat kelas 4 SD. Jika ada yang bertanya mengapa kelas 4 SD, itu karena kelas 4 SD merupakan masa dimana saya bisa menjadi diri saya yang sesungguhnya, bersama dengan mereka yang bisa saya sebut sahabat sejati. Dan memang tak ada yang abadi, karena saya terpisah jauh dari mereka di saat saya menginjak kelas 5 SD. Mungkin saat dimana saya bertemu mereka kembali, saya sudah menjadi orang asing di mata mereka. Tak ada yang abadi, dan hal itu saya bisa pahami.
Ada pula kenangan dalam bentuk sebuah salaman penuh antusias. Bagi saya yang sudah mendapat cap kutu buku, sebuah salaman adalah hal yang langka. Meteor boleh datang saat itu dan menyapu seluruh kehidupan di muka bumi ini. Berlebihan? Tanyakan kepada yang memberi salam itu. Dan sekarang, ia sedang berada dalam sebuah perjalanan mencari seseorang yang rela berbagi untuk hidup. Katanya sih, ingin yang setampan Gu Jun Pyo (btw, saya enggak tahu siapa dia).
Dan saya hanya bisa memberi tampang gorila.
Berbicara mengenai jarak, rentan rasanya untuk tidak menghabiskan waktu bersama orang yang seharusnya saya beri perhatian lebih: keluarga. Bekerja demi sesuap nasi dan seember berlian, 5 hari dalam 1 minggu, dan mengimbangi waktu demi mereka yang seharusnya tidak kita beri jarak lebih, adalah, mungkin cocok kalau saya sebut, insting. Keluarga. Darah daging sendiri. Buah tak pernah jatuh terlalu jauh dari pohonnya (jangan bilang buah dari pohon tauge...basi...). Tapi siapa yang ingin sayapnya terbentang terlalu rendah? Dan siapa yang tak ingin berubah untuk mendapat lebih? Nyatanya kita semua berubah, meski jalur yang kita tempuh tak selalu sama.
Dan terbanglah saya menjadi TKI.
Kenangan pun bisa hadir bersama suara cempreng dan nama yang mirip dengan nama orang nyentrik. Mereka yang kini menjadi sepasang kakek nenek (dalam artian harafiah tentunya), adalah yang paling saya rindukan sekarang ini. Berbekal sebuah beban (kira-kira demikian) demi masa depan yang tak akan pernah pasti, saya menjadi kuli di negeri seberang. Satu tahun terasa begitu cepat, tapi tanpa kehadiran mereka memang terasa hambar. Rasanya canda-tawa itu tak berarti tanpa mereka.
Kakek, apakah ada lagu favorit baru?
Nenek, kapan potret di studio lagi?
Kakek, gimana kabar mobil coklat?
Nenek, masih pengen jadi pinky girl?
Dan aku ingin pulang . . .
Sebuah entry untuk RL Writer's Circle: Menuliskan Kenangan Tentang Kenalan.
Adieu.
.