
Berawal dari mereka pada suatu masa yang masang status seperti ini secara tiba-tiba: "Orang yang takut komitmen(menikah) adalah orang yang takut akan tanggung jawab. Setuju/nggak setuju?" Dan beberapa anak panah mulai terbang dan menancap di kepala.
*jleb
Sayah cuma bisa kasih komen kayak gini: "Bisa juga. Kalo diri sendiri ga keurus, emang bisa ngurus pasangan? Tanggung jawab ke diri sendiri aja belum terpenuhi."
Sebetulnya, agak jengah juga baca status kayak gini. Yah, kalau bagi cowok, mungkin status perjaka tua enggak akan dapat tatapan sinis dari para penganut patriarki. Kalau bagi wanita dengan status perawan tua sih . . . ga komen ah.
Back to topic.
Beberapa saat yang lalu, salah satu anggota keluarga besar pernah nanya begini: "Kapan bawa pacar?" Dan faktanya, sayah cuman bisa mingkem, berhubung belum ada training buat otak untuk bisa masuk ke level multi-tasking. Kerja is kerja. Pacaran is pacaran. Gabungin keduanya, dan dijamin kalau sayah cuma bisa dapet hasil 50% dari yang seharusnya. Terkadang sayah takjub juga sama temen-temen yang bisa nikah di usia awal 20-an, tepatnya setelah selesai skripsi. Dan untuk itu, sayah belum pernah tanya soal komitmen dalam hidup mereka. Dan sekarang, antara tahun 2008-2009, sudah banyak temen yang menikah (dan sayangnya, sayah ga bisa hadir). Mungkin memang sudah saatnya bagi mereka buat melangkah ke jenjang selanjutnya. Dan komitmen mereka memang sudah disana... mungkin.
Ada dua hal yang membanjiri otak sayah saat itu. Yang pertama adalah percakapan dengan beberapa temen sayah yang cukup meyakinkan kalau mereka ga bakalan menikah. Namun faktanya, kayaknya sebentar lagi mereka nikah. Bwahahahahahaha... Ehem... Yang kedua adalah omongan dari mantan bos sayah, yang ngasih cap "pemikir terlalu panjang".
Walhasil, sayah jadi teringet kenapa sayah belum mau melangkah lebih lanjut, yakni karena sayah belum siap buat bertanggung jawab atas hidup orang lain, apalagi kalau punya anak. Gimana mau tanggung jawab kalau masih ada hutang yang belum lunas?
See? Jawabannya emang sama. Dan ternyata sayah cuman bongkar gudang memori demi satu jawaban yang sama. Phobia komitmen.
...
Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, apa betul cuma itu?
Ada seorang kenalan yang pernah ngomong kalau dia sudah siap dengan komitmen punya anak sebelum dia menikah. Dan sekarang, setelah jalan 5 bulan, dia mulai pusing sendiri; dimulai dari persiapan popok, cara menyusui, suster, cara menggendong, dan tetep bekerja. Waduh...
Enggak ada yang pernah ngomong kalau segala sesuatu dalam hidup itu gampang. Enggak ada yang pernah ngomong kalau kita harus bersiap siaga 100% dalam menghadapi semua jenis masalah. Dan enggak ada yang bakalan tahu kemana kita akan diarahkan, apa yang akan kita peroleh, dan apa yang harus kita tinggalkan.
Komitmen itu ternyata cukup seram. Ketika kita berkomitmen, berarti kita sudah "memiliki" sesuatu. Well, ada pertemuan, ada perpisahan. Ada memiliki, ada pula kehilangan. Kehilangan bisa berarti berat, and somehow, some people can learn how to let something go; meanwhile some others cannot. Kalau niru iklan: "Sudahkah anda berkomitmen hari ini? Saya punya dua!"
...
Ah, well. Terkadang, kalau mikir hal-hal kayak gini, hanya satu hal yang sayah sesalkan: setiap orang akan punya insting menjadi orang tua. Atau justru malah bikin penasaran? Akankah hidup kita nantinya seperti film Pursuit of Happiness, atau malah jadi The Click?
Penasaran...