Bukan hal yang baru ketika seorang teman memutuskan untuk mencicipi bagaimana kehidupan para rohaniawan dalam waktu yang sangat singkat. Bisa jadi ia pergi ke Tibet, India, Yerusalem, Kamboja, sungai yang mengalir, atau timbuktu sekalipun, bagi saya, itu bukanlah hal yang harus digarisbawahi sebagai sesuatu yang sangat luar biasa. Itu sudah biasa. Yang harus digarisbawahi, adalah sebuah kata "MENGAPA".
Mengapa teman saya begitu berminat merasakan posesi Samanera di negeri seberang ketimbang negeri sendiri? Mengapa teman saya begitu terbuai dengan alam yang lebih menawarkan kesunyian ketimbang kota yang penuh dengan makhluk yang gila kerja? Bosan dengan rutinitas kah? Ketidakpercayaan dengan tempat tinggal sendiri kah? Jenuh dengan lingkungan sosial kah? Dan masih setumpuk -kah lain yang mengantri dan siap untuk dibubuhkan pada setiap detik aliran kehidupan mereka. Niscaya, mereka bisa menjawab semua itu.
Mungkin... dengan bekal "ingin menemukan kesejatian", pertanyaan saya akan mirip dengan mbak yang satu ini. Menarik untuk menganalisa sesuatu di luar konsep ya-dan-tidak. Anda tahu simbol yin-yang? Positif-negatif, aktif-pasif, feminim-maskulin. Sadar tidak sadar, terkadang kita hanya membuat sebuah keputusan berdasarkan 2 pilihan. Mengapa tidak 3? Atau 4? Atau 5 sekaligus? Terkadang, baik atau buruknya sebuah pilihan membatasi visi kita akan sebuah keyakinan, bahkan keyakinan tentang Tuhan.
Dalam dunia IT, tidak semua hal bisa dikatakan absolut 100%, karena manusia bisa khilaf, apalagi ciptaannya manusia itu sendiri. Begitu konsep ini ditekankan pada sebuah keyakinan bahwa Tuhan menciptakan manusia, dimana manusia bisa khilaf, muncul sebuah pertanyaan "Tuhan bisa khilaf ga ya?". Sebagian dari kita akan langsung protes "Wah, kualat lu ntar" atau "Lu berani-beraninya bertanya tentang Sang Absolut".
Maaf kalau saya bukan manusia yang terlalu mengagungkan sisi rohani. Atau lebih tepatnya, belum mengagungkan sisi rohani. Tapi bagi saya, ketika seseorang berhenti bertanya, itulah saatnya dia berhenti untuk percaya.
Beberapa tokoh rohaniawan masa silam, terutama para praktisi Zen, seringkali menemukan kesejatian melalui suatu hal yang sederhana. Dari yang saya tangkap, tiada adalah kesejatian. Kita tidak berada di depan, tengah, ataupun belakang. Karena itu semua akan berlalu bagai debu. Bahkan ketika saya merasakan apa yang disebut sebagai "sekarang", dalam hitungan milisecond, semua akan menjadi masa lampau.
Setidaknya, itulah yang saya percayai.