Sudahkah anda tim-pang hari ini ?

Saturday, March 28, 2009

Faith



Bukan hal yang baru ketika seorang teman memutuskan untuk mencicipi bagaimana kehidupan para rohaniawan dalam waktu yang sangat singkat. Bisa jadi ia pergi ke Tibet, India, Yerusalem, Kamboja, sungai yang mengalir, atau timbuktu sekalipun, bagi saya, itu bukanlah hal yang harus digarisbawahi sebagai sesuatu yang sangat luar biasa. Itu sudah biasa. Yang harus digarisbawahi, adalah sebuah kata "MENGAPA".

Mengapa teman saya begitu berminat merasakan posesi Samanera di negeri seberang ketimbang negeri sendiri? Mengapa teman saya begitu terbuai dengan alam yang lebih menawarkan kesunyian ketimbang kota yang penuh dengan makhluk yang gila kerja? Bosan dengan rutinitas kah? Ketidakpercayaan dengan tempat tinggal sendiri kah? Jenuh dengan lingkungan sosial kah? Dan masih setumpuk -kah lain yang mengantri dan siap untuk dibubuhkan pada setiap detik aliran kehidupan mereka. Niscaya, mereka bisa menjawab semua itu.

Mungkin... dengan bekal "ingin menemukan kesejatian", pertanyaan saya akan mirip dengan mbak yang satu ini. Menarik untuk menganalisa sesuatu di luar konsep ya-dan-tidak. Anda tahu simbol yin-yang? Positif-negatif, aktif-pasif, feminim-maskulin. Sadar tidak sadar, terkadang kita hanya membuat sebuah keputusan berdasarkan 2 pilihan. Mengapa tidak 3? Atau 4? Atau 5 sekaligus? Terkadang, baik atau buruknya sebuah pilihan membatasi visi kita akan sebuah keyakinan, bahkan keyakinan tentang Tuhan.

Dalam dunia IT, tidak semua hal bisa dikatakan absolut 100%, karena manusia bisa khilaf, apalagi ciptaannya manusia itu sendiri. Begitu konsep ini ditekankan pada sebuah keyakinan bahwa Tuhan menciptakan manusia, dimana manusia bisa khilaf, muncul sebuah pertanyaan "Tuhan bisa khilaf ga ya?". Sebagian dari kita akan langsung protes "Wah, kualat lu ntar" atau "Lu berani-beraninya bertanya tentang Sang Absolut".

Maaf kalau saya bukan manusia yang terlalu mengagungkan sisi rohani. Atau lebih tepatnya, belum mengagungkan sisi rohani. Tapi bagi saya, ketika seseorang berhenti bertanya, itulah saatnya dia berhenti untuk percaya.

Beberapa tokoh rohaniawan masa silam, terutama para praktisi Zen, seringkali menemukan kesejatian melalui suatu hal yang sederhana. Dari yang saya tangkap, tiada adalah kesejatian. Kita tidak berada di depan, tengah, ataupun belakang. Karena itu semua akan berlalu bagai debu. Bahkan ketika saya merasakan apa yang disebut sebagai "sekarang", dalam hitungan milisecond, semua akan menjadi masa lampau.

Setidaknya, itulah yang saya percayai.

Ex nihilo nihil fit

Thursday, March 19, 2009

Arah



Ketika semua orang pernah menemukan apa yang ingin ia tuju, pada akhirnya, haruskah ia berhenti? Dulu, saya percaya bahwa "YA" adalah jawabannya. Namun, ternyata saya merubah jawaban itu sekarang. Lebih tepatnya, saya harus. Sebuah perubahan yang ternyata bekerja diam-diam. Persis pencopet.

Tak ada yang pernah mengatakan bahwa pergi dari satu kehidupan menuju bentuk kehidupan yang lain sama dengan membuang semua memori atau ampas pikiran yang mungkin sebetulnya tidak berguna, terkecuali kalau kita memang memiliki ikatan emosional dengan seseorang yang kita sebut sahabat.

Mengapa kita hidup dan kemanakah arah yang akan kita tuju, adalah makanan sehari-hari setelah mebuka mata di pagi hari dan sebelum menutup mata di malam hari. Cahaya itu tidak selalu ada. Tidak ada yang pernah menjamin bahwa keajaiban akan selalu muncul tiba-tiba. Dan tidak ada yang pernah mengesahkan pula bahwa hidup adalah sebuah permainan kucing-kucingan dengan kematian.

Sangatlah mudah mengucapkan kata mati, namun sangatlah sulit untuk benar-benar meresapi hidup dari setiap sisinya. Dan kenapa harus selalu dua sisi? Benar atau salah adalah pilihan yang terbatas, dan kita bisa membuat pilihan yang lebih dari itu. Tak ada yang membatasi, karena jika kita terjatuh pada langkah pertama, kita masih bisa melanjutkan kehidupan pada langkah berikutnya. Atau jika kita ingin berhenti, seperti yang saya bilang, adalah konsep yang ingin saya ubah. Seutuhnya.

Mencintai hidup adalah sebuah pilihan.
Berhenti dari hidup juga adalah sebuah pilihan.
Melangkah dalam hidup sambil bertanya-tanya, juga, adalah, pilihan.

Cahaya itu masih ada. Endless mosaic.

Non est vivere sed valere vita est. Omnia causa fiunt.

Blog Archive

About Me

My Photo
Vendy
Mellow and complicated. Not rich, and that's why he's working. Not too friendly, but he can try to be. Not talkative, but he can try to be a good listener. Searching for great jobs and great lifetime partner. Trust in both God and Luci, but sometimes too straight. Kept him away from loneliness, ignorance, clowns, and marionettes. Fragile with pure-heart children, wise parents, b/w photos.
View my complete profile

Recent Comments