Ga ada yang bilang darah itu hitam kecuali abis digebukin massa sekampung terus lebamnya dibiarin sampai hitam. Tapi sekarang, bukan soal darah yang ingin saya perbincangkan, melainkan soal "bilur" yang baru saya terima siang ini.
25 tahun sudah saya bergelut mengenal kehidupan akan tempat kelahiran saya: Indonesia. Tahukah anda apa yang paling saya sukai dari Indonesia selain ragam masakannya dan harga sayur di pasar tradisional yang murah? Sifat tenggang rasa, yang mana, mungkin makin sulit ditemui sekarang ini (tak ayal, sebentar lagi tinggal menunggu sejarah menjemput ajal dari tenggang rasa itu).
Rumput tetangga boleh jadi lebih hijau. Tapi waktu itu, saya belum tahu seberapa besar usaha si tetangga untuk membuat halamannya hijau. Dan dalam proses penyesuaiannya, salah seorang keluarga tetangga itu berbicara begini: "This is not Indonesia. Welcome to the real world son."
So, label tenggang rasa itu memang sudah ditakdirkan memudar atau tidak, let me decide it for myself. Sebagian dari kita sedemikian paradox, sementara sebagian lainnya memuja relativitas. Pada saat hidup dimulai dari titik ground zero, semua itu tidak berarti lagi. Karena pada akhirnya, yang aku punya hanyalah diri ini. Bukan uang, bukan harta, dan bukan pula ikatan sosial.
Bagi manusia, darah itu memang merah, tapi jangan biarkan kebebasan menjadi variabel mati bagi kehidupan. Seperti merahnya darah itu.
Sudahkah anda tim-pang hari ini ?