
(Source : www.denofgeek.com)
Pada umumnya, film diciptakan dengan sebuah pengaruh supaya penonton menaruh rasa kagum ataupun simpati kepada pemeran utama, yang notabene, protagonis (karakter baik, superhero, dsb). Ambillah contoh film Hell Rider atau Hell Boy. A main character; meet a bad guy; the bad guy goes mad; the main character beats the bad guy’s ass; the end. Tapi tidak untuk karakter Joker dalam film Batman - Dark Knight. Karakter Joker dalam film tersebut sangatlah luar biasa. Not 2, but 4 thumbs up for Joker! And, sorry, Batman’s charisma cannot be compared to Joker’s. Joker rules! Tell you what, I’m not joking ^_^
Mungkin berdasarkan kekaguman saya atas kecerdikan yang disuguhkan dalam film Saw, dukungan saya terhadap idealisme milik Joker sedemikian kuatnya, dan itu semua bukan tanpa alasan yang mendasar. Mari kita lihat realita yang ada di sekitar lingkungan sempit bernama Jakarta ini. Setiap hari, pasti, ada satu tindak “kriminal” yang terjadi dengan landasan ekonomi, kegalauan pikiran, atau stress tak beralasan. Tidak. Semua itu lahir atas dasar ketakutan yang melahirkan kekacauan, yang notabene, dapat berevolusi menjadi chaos. Di atas semua chaos yang terjadi, adakah biang chaos sejati? Yang hanya membutuhkan keberanian, kekuasaan dan kecerdikan? Tiga hal tersebut, tersimpan dalam satu paket yang dimiliki oleh Joker. Mungkin itu yang disebut sebagai kriminal sejati. Mungkin bisa dibilang pemimpin sejati juga seperti itu.
Ruwet? Ambillah contoh sederhana. Mari kita bermain. Anda dihadapkan pada sebuah pilihan:
1. Membunuh orang yang tak dikenal supaya orang yang anda kasihi tidak mati.
2. Diam dan menerima detik-detik terakhir orang terkasih anda.
Dan, tidak. Anda tidak bisa mengambil dua pilihan itu sekaligus. Here’s the question. Apa yang terlintas di dalam kepala anda?
Manusia dilahirkan dengan insting dasar untuk bertahan hidup. Kikis tujuan dan semangat hidup, dan manusia akan menjadi tidak berbeda dengan pohon. Hanya bisa pasrah ketika disunat dari akarnya. Dan hampir setiap hari, setiap pagi, dalam perjalanan menuju tempat kerja, saya melihat banyak manusia “pohon” itu. Bahkan sebelum saya menonton film Dark Knight, saya melihat seorang ayah yang menyuruh anaknya mengemis, kemudian uangnya langsung diambil begitu saja. Chaos? Bukan. Itu hanyalah bentuk ketakutan terkecil yang belum berubah menjadi chaos, meski berpotensi. Hanya segelintir kasus harian, namun banyak, yang menunggu di pemerintahan Indonesia sekarang ini, yang akan berakumulasi menjadi chaos.
Mungkin Indonesia butuh seorang Joker, bukan penakut dalam balutan kata kriminal ataupun pangkat pemerintahan. Mungkin juga, Ryan adalah salah satu produk chaos yang terungkap (baca: baru terungkap). Hehehe…
Hail Joker!!!