Sudahkah anda tim-pang hari ini ?

Friday, May 30, 2008

Lonely

I'm losing the place I called home...

Wednesday, May 28, 2008

Quotes

Some fine quotes to seize the monster day :

Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.

Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.

Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.

Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.

Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.

Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.

Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.

Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.


Mendekati closing bulanan, quotenya pas banget deh.

Friday, May 23, 2008

Normal?


(Image taken from wikipedia.org)



Kalau elu terdampar di sebuah pulau asing;
dan elu bisa bawa satu barang;
apa yang akan elu bawa?


Ini mungkin sebuah pertanyaan, yang entah nyasar atau memang disengaja dari *nunjuk atas*, dari sebuah buku - lupa judulnya - dan sebuah film drama Jepang - yang judulnya "Kimi wa Petto". Tapi sebelum saya utarakan jawabannya, mungkin lebih baik saya curhat sedikit tentang satu-dua hal yang enggak penting.


Normal


Apa definisi normal? Mari kita bandingkan sedikit dengan realita yang disediakan dalam menu media, yang mungkin, akan menguras air mata.

Mata dua - biarpun minus. Hidung agak mancung satu - lengkap dengan dua lubang. Mulut satu - emoh dijadikan dua. Telinga dua - emoh dijadikan satu. Rambut tipis - jarang rontok kalau enggak stress. Kepala satu - amat sangat jarang sekali sakit kepala. Kemudian, saya teringat akan banyaknya berita tentang balita yang menderita hidrocephalus (satu-satunya istilah biologi yang masih saklek di ingatan, yakni suatu kondisi dimana kepala membengkak gara-gara ada air atau cairan X yang belebihan di kepalanya). Namun orang tuanya tetap menyimpan harapan kalau-kalau suatu saat nanti ada kesempatan untuk menyembukan kelainan fisik ini, atau yang Di Atas *nunjuk atas lagi* akan memberikan jalan.

Hmmm...

Lanjut ke alat gerak. Dua pasang lengan, sepuluh jari, dengan jempol kanan yang sempat tercabut sedikit dagingnya. Dua pasang kaki, sepuluh jari, lengkap dengan rambut (bedakan dengan bulu, karena hanya unggas yang punya bulu - amanat guru biologi saya). Kemudian, saya teringat akan banyaknya mereka yang cacat namun masih bisa menghadapi setiap hari dengan semangat. Harapan itu tetap ada. Contohnya, gadis berjari 4 yang muncul di acara Kick Andy. Wohooooo...

Hmmmmmmmm...

Konon, pihak yang merasa dirinya kuat akan membandingkan dirinya sendiri dengan pihak lain yang dianggap lemah. Dalam curhat numpang lewat barusan, mungkin itu hanya contoh sederhana, mungkin juga salah. Saya jadi ingat, kalau dalam agama Buddha, ada 3 hal yang perlu diingat selama kita hidup : Anicca, Dukkha, Anatta - yang mengingatkan bahwa perubahan itu selalu ada (kecuali kalau kita manekin plastik, yang toh, kalau dibakar, nyusut), penderitaan plus ketidakpuasan akan selalu mengikuti kehidupan yang fana (that's right; kita mati ga bawa apa-apa), ke-aku-an itu adalah dasar ego manusia yang lebih sering bikin susah (no comment dah). Benarkan saya kalau saya salah.

Tapi, berdasarkan 3 hal itu saja, saya jadi bingung kalau menghadapi kata normal. Apa kita punya standard tentang definisi normal itu sendiri? Atau itu cuma sekedar kata yang memberikan dampak ilusi yang bisa menjadi sedikit berlebihan untuk bertahan hidup? Survival of the fittest?

Don't ask me......

Kira-kira dua tahun yang lalu, saat Supernova-nya mbak Dee lagi booming-booming dalam kepala saya - katakanlah saya fanatik, dan EGP - ada seseorang yang sebegitu takutnya terhadap isi dari Supernova KPBJ karena ada pasangan gay dalam alur ceritanya. Waktu itu, saya belum bisa melontarkan argumen seperti ini : "mengesampingkan orientasi seksual, apa bedanya elu sama gay? Darah sama-sama merah, tulang sama-sama putih. Indonesiaaa, merah darahmu, putih tulangmu........"

Penasaran..........

Bukan hanya satu atau dua forum/komunitas yang sering membahas tema ini. Argumen paling kuat dan tak terpatahkan - selama ini - ada berkat bekingan elemen yang paling sakral : agama. Jadi, saya bertanya kembali, apa tujuan agama itu sendiri? Berbagai jurus tentang ayat dan surat dikeluarkan, tapi saya masih kurang paham akan jurus-jurus itu. Kalau agama memang ditujukan demi kebahagiaan, kenapa membedakan?

Jadi inget buku "Sacred & Secular" dan "Witch of Portobello". Dua wishlist yang masih dicari-cari.

Dan saya masih enggak bisa nangkep maksud mereka... which means, I'm considered as not-normal-person in their eyes. Saya ga bisa ngomong : "Tunggu sampai elu jadi gay/lesbi beneran. Mungkin elu baru tahu rasanya."

Tempting...heheheh... Tapi tetep. Saya juga ga ngerti rasanya menjadi pihak yang tidak dinormalkan sepenuhnya. Kalau dianggap "miring" sedikit, yaaaa........

Lalu, apa hubungannya dengan pulau terpencil tadi?

Inilah jawabannya. Saya akan membawa manusia lain, kalau bisa seumuran dan dalam kondisi sehat.

Alasannya? Saya bukan tipe orang yang suka blak-blakan. Tapi, kalau menyimpan semua hal di dalam pikiran dalam waktu yang bersamaan tanpa pernah mengeluarkannya sama sekali, RSJ siap jadi tujuan berikutnya. Jadi, kalau memang saya terdampar di pulau terpencil, kalau bisa, saya berharap ada manusia lain yang menemani saya. At least, there's someone whom I can talk to. Someone, not something. Peduli amat dengan elemen yang lain.

Jangan sampe film Cast Away kejadian. Curhat koq sama bola?

Wednesday, May 21, 2008

Bored



Beneath the water
that's falling from my eyes
lays a soul I've left behind
the edge of sorrow was reached but now I'm fine
I've filled the hole I had inside

I'll pray it doesn't scream my name
so I light a flame and let it breathe
the air that kills the shame

Sevendust feat. Chris Daughtry - The Past



Sometimes, we're taking too much effort to other things around us, until we forget who we really are. We're alive, and yet, we die in the same time. Tell me, why do we have to reach something which will perish in the end? For survival reason? I still can't find the proper answer, yet, I'm walking in the same haze. Therefore, I still cannot understand the way monks see this world. MYOB still takes an important role in my parameters.



What if I say I'm not like the others?
What if I say I'm not just another one of your plays
You're the pretender
What if I say I will never surrender?

Foo Fighters - The Pretender



Boy, there's just too many if. But, seriously. For those who create puppets for selfish reason - or reasons, don't you know that they'll kill you in the end? Slightly.

Obviously, I need to change. I'm kinda bored here.

Tuesday, May 13, 2008

Seberapa liberal loe?

Mungkin postingan ini bisa dibilang sedikit ga biasa bagi orang-orang yang kenal siapa saya. Bukan berarti saya pernah memasuki dunia kaum gay/lesbi, apalagi punya teman gay/lesbi, biarpun sebenernya pengen punya. Tapi, ini lebih cocok dibilang sebagai "jangan menilai buku dari sampulnya". Hal ini dikarenakan terkait dengan kejadian sekitar satu minggu lalu ketika saya tidak dengan sengaja, namun dengan sadarnya sange-nya mengucapkan kata gay berkali-kali sewaktu sedang berkumpul bersama teman-teman seangkatan. Itu ada sebabnya. Ada api pasti ada kebakaran asap.

Sekitar beberapa waktu yang lalu, saya enggak sengaja mendengar percakapan seperti ini di kantor:

A : Kalo lu mau cari gay, tanda-tandanya ada 3 loh jeng.
B : Eh? Apa aja tu jeng?
A : Satu, pake anting di kuping kanan. Dua, pake cincin di kelingking.
B : Terus, yang ketiga apa?
A : Taruh saputangan di saku belakang celana.


Uhuk uhuk *kontan keselek, bukan ketelek...
Siaul...

Dan kenapa saya keselek? Begini ceritanya. Kira-kira tahun 2005, saat naik kopaja 27 jurusan Senen Gading, saya sempet kecopetan. Biarpun jumlah uang di dalamnya enggak terlalu banyak, dan syukurnya, saya masih simpan uang cadangan di saku baju dan tas, tetap saja ada yang enggak bisa balik : KTP dan kartu ATM. Mana ngurus dua-duanya susah. Wahai pencopet, semoga kau damai disana (*loh). Jadi, demi keamanan dompet, saya ubah posisinya, yang biasanya di saku belakang celana, sekarang di tempat yang tidak mungkin dijamah tanpa modal nekat. Silahkan bayangkan dimana posisinya (*evil grin).

Tempat cadangan uang pun bertambah posisinya. Dan posisi saku belakang jelas kosong. Jadinya, saya letakkan saputangan di posisi belakang selama setahun. Hitung-hitung toh, kalau lagi keringetan pas di bis, dan ada pencopet, minimal dia mesti nyerah kalau mau copet saya. Toh dompetnya tidak ada di saku belakang. Ternyata, eh ternyata. Huwoow, kamu ketahuan, punya ciri gay... Banci ya banci aja lageeee......

Asu...

Hal ini semakin diperparah diperjelas dengan adanya buku yang berjudul Macho Man Ngomong Cong, by Fa (dunno who's Fa anyway, but he's really something). Awalnya saya kira ini buku yang ringan (yeah, apalagi baru habis lahap buku Enrique's Journey). Ternyata, ya tentang kaum gay. Berarti ini buku miring ketiga yang saya beli. Untul review lengkapnya, lihat disini dan disini.

Dan, ya, ada tulisan tentang ciri umum gay. Tiga itu. Ya wis. Saputangan ganti posisi. I still adore her you know.

Tapi, ada satu hal yang menarik disini. Mungkin kita tidak pernah sadar kalau saat kita berjalan-jalan di suatu mal, orang yang kita temui di antrian kasir bisa jadi adalah gay atau kaum tersingkir lainnya (e.g. lesbi, bi, bencong, waria, etc). Well, guess what? Don't judge the book before you read the whole thing. Dunia lebih banyak memiliki orang yang berpikiran sempit, dan saya pernah menjadi salah satunya. Well, at least, I'm trying to change my stupid self.

Dan meskipun banyak yang ngaku liberal (liberal coyyyyyy), apa bisa mereka menerima ketidaknormalan orang lain apa adanya? Termasuk masalah gay ini? Well, saya sendiri enggak bisa ngomong banyak. Kenapa? It's simple. I don't have any gay friend(s), so I don't know what it's like to have one.

Thanks Fa. This book really makes me laugh. And you know what? I can define queer in many ways. But, this is something which, unintentionally, all of us love. We can say that we hate it, but we can't say we can live the fullest without it.

Tapi, ya lagi. Seberapa liberal sih kita ini?

Friday, May 09, 2008

Picing dokter

Tahu iklan HIT? Obat nyamuk dengan slogan seperti ini:

Ada ga yang lebih bagus dari HIT?
Yang lebih bagus dari HIT?
Yang lebih mahal banyak...


Untuk beberapa orang, dunia kedokteran Indonesia rasanya cocok dipasangi slogan itu. Apa pasal? Bolehlah saya curhat dikit.

Kemarin, saudara sepupu saya baru masuk ke RS berkat kutukan tipes. BAB darah dan pucat pocong di hari pertama sakit sudah bikin satu rumah panik. Tak ayal, ortunya langsung membawanya ke RS yang -konon- bagus. Selama seminggu, tanda-tanda kesembuhan belum juga muncul. Dan oke, untuk memperpendek cerita, 2 juta lenyap dalam sehari.

...

Asemmmmmmmmmmmmmmm... Wishlist gue bisa kebeli semua...


Wishlist 1 : Wii


Wishlist 2 : Nokia N95


Wishlist 3 : Sony Ericsson W950


Ehem... itu lain cerita. Lanjut.

Setelah seminggu, datang berita mengejutkan : sepupu didiagnosa menderita kelainan darah. Kemudian, datanglah kesimpulan mendasar buat sang dokter rumah sakit bagus nan mahal itu: dokternya ngaco.

Maka, diambil keputusan singkat: berobat ke Singapore. Tahu cerita akhirnya? Baru 2 hari berobat, hari ketiga sudah bisa makan nasi ayam kayak orang belum makan setahun. Bagaimana faktor biayanya? Hampir sama. Dan sekarang, sepupu saya itu sembuh total. Walafiat bo.

Kalau kasusnya seperti ini, tak ayal, dunia kesehatan di Indonesia dipandang sebelah mata. Dari beberapa orang kaya mujur yang saya wawancarai, kalau mereka sakit parah, mereka akan langsung berobat ke Jerman, Singapore, atau Malaysia. Tahu jawaban mereka saat saya tanyai bagaimana kualitas dokter Indonesia?

Jawabannya nyelekit : "Ga mutu. Itu cuma buat orang menengah ke bawah."

Ternyata, pengobatan mahal (di Indonesia) tak menjamin mutu.

Nasib, ya nasib.

Blog Archive

About Me

My Photo
Vendy
Mellow and complicated. Not rich, and that's why he's working. Not too friendly, but he can try to be. Not talkative, but he can try to be a good listener. Searching for great jobs and great lifetime partner. Trust in both God and Luci, but sometimes too straight. Kept him away from loneliness, ignorance, clowns, and marionettes. Fragile with pure-heart children, wise parents, b/w photos.
View my complete profile

Recent Comments