...atau bebal, atau keras kepala. Apapun namanya itu. Saya masih ingat sebuah kejadian sekitar setengah tahun yang lalu, ketika saya didiagnosa menderita stress oleh seorang dokter. Tapi dokter yang satu ini agak sedikit unik. Bukan bermaksud promosi atau apa, tapi saya hanya sekedar berbagi. Layaknya dokter praktek pada umumnya, yang didiagnosa umumnya adalah penyakit yang mempengaruhi fisik. Namun untuk dokter yang saya temui waktu itu, ia memberi sedikit contekan dari hasil "bacaan"-nya terhadap saya (begitulah kata pasien yang lain). "Kamu sebetulnya tidak cocok bekerja di bidang yang berbentuk piramida, tapi lebih cocok di sebuah bidang dengan orang-orang yang tidak menuntut senioritas, melainkan kesetaraan. Kalau kamu tanya alasannya, itu karena saya ' membaca' kamu sebagai orang yang keras kepala." Errr... memang cocok sih. Maklum, waktu itu saya masih kurang paham soal bisnis. Dan sekarang, hasil bacaan itu terbukti lagi. Masalahnya bukan debat kusir mengenai perihal bisnis lagi, melainkan masalah tanggung jawab. Saya bukan tipe orang yang senang untuk mengakhiri sesuatu yang dimulai oleh orang lain. Saya percaya, kalau seseorang melakukan sesuatu, dia pula yang harus melakukannya hingga tuntas, selama ia masih mampu. Batas garisnya adalah melemparkan tanggung jawab kepada orang lain. Maaf saja kalau garis ini diinjak lebih dari tiga kali, karena saya akan mulai mempertanyakan kompetensinya. Persis seperti melihat orang lain ngutang tapi enggak pernah bisa bayar.
Kalau tidak mau meminjamkan, jangan pinjamkan. Kalau tidak mau berhutang, jangan meminjam. Sebab bunuh diri dalam keadaan berhutang sama saja dengan mencuri.
Dikutip dari Conan, lupa edisi berapa |
Dan ya. Itu sudah dikategorikan keras kepala. Kemudian diungkitlah mengenai kerja sama dalam sebuah team. Saya diberi sabda oleh pak bos seperti ini :
Sebuah team yang solid itu bekerja dengan saling mendukung satu sama lain. |
Tapi, ya itu. Kalau saya tidak pernah disupport sementara saya diharuskan mensupport, saya diberi hidangan buah simalakama. Saya punya tanggung jawab, rekan sekerja juga punya tanggung jawab. Kalau memang tidak yakin bisa menyelesaikannya, seharusnya jangan terima sejak awal. Sebisa mungkin, jangan pernah lempar tanggung jawab kecuali kepepet atau memang sudah tidak mampu.
I try to see the good in life. The good things in life are hard to find. We're blowin away, blownin away Can we make this something good?
Chris Daughtry - It's not over |
Aish... sudahlah. Capek.
Berikut percakapan yang dikutip dari Crayon Shinchan.
Masao : Shinchan, tolong aku! Shinchan : Lalu siapa yang tolong aku? *nangis
|
Pesan moral : lindungi kepala kalian masing-masing, karena tak ada yang bisa melindungi leher kalian selain diri kalian sendiri, bos yang baik, rekan kerja dan teman yang baik, dan terutama sekali, Dia. Jika leher kalian terlindungi, jangan lupa gantian lindungi leher orang yang melindungi kalian. Ordinary problem : saya bukan orang yang bisa mengambil langkah pertama, tetapi saya punya reflex untuk counter-defend. So?
Saya pernah menjadi temen kalong dan Batman. Saya akui, meski cukup senang dengan menjadi makhluk malam (berat badan turun 15 kilo dan sering kentut akibat kebanyakan bergadang), saya tidak bisa lagi menerapkannya. Pekerjaan menuntut lebih banyak, dan bahkan terlalu banyak. Sayang, saya masih jadi dianggap kain pel kere. Peres terus selama bisa diperes. Pak bos mungkin paham, mungkin tidak. Saya tidak tahu. Dalam pekerjaan saya, sebuah sistem baru sama dengan sebuah mainan baru. Meski tidak bisa senikmat merasakan Xbox atau PS2, toh tetap saya telan. Kan kerja. Sampai ada yang sempet-sempetnya bilang :
Money talks, and you're fuc*ed. |
Asu. Kalau ada orang yang rela bekerja untuk perusahaan dengan standar kerja setiap hari (Senin hingga Senin lagi), anda akan menemukan saya mengangkat tangan ketika sedang kepepet belum punya kerjaan. Saya yakin, perusahaan itu belajar dari sejarah penjajahan Jepang terhadap Indonesia. Kerja rodi rules. Pasti ada bos yang paham cara ini, selama gaji mengalir dan kontrak berlaku. Koordinasi adalah istilah kerennya.
Money talks, contract rules, and you're fuc*ed. |
Mpret. Saya adalah penyebab batalnya acara kongkow-kongkow di hari Sabtu. Syukurnya, teman-teman saya sangat pengertian dengan kondisi saya (demi sesuap nasi dan seember sesendok berlian), dan acara diundur ke hari Minggu. Hal seperti ini sudah terjadi semenjak 5 bulan terakhir, terhitung dari bulan ini. Namun muncul geledek yang tidak disangka-sangka : sebuah e-mail yang berisi keputusan hari minggu tetap masuk seperti biasa. Demi mendukung proses end-of-month. Bos? "Ya, ikuti sajalah. Mereka kan client kita"
Money talks, contract and client rules, you're still fuc*ed. | Pecas ndahe. Tak heran banyak orang akan segera mencari sebuah perusahaan dengan bos yang lebih pengertian akan kebutuhan anak buahnya sebagai seorang manusia. Kere bukan impian toh?
Developer juga manusia . . . |
Dengan bangga mengkategorikan diri sebagai blogger ngaco : Dan saya nggak ngutip Roy Suryo (daripada dibilang salah kutip).
Dikutip dari Crayon Shinchan :
"Papa membeli obat anti rontok yang mahal. Lalu uang jajannya habis dan rambutnya rontok karena stress. Enaknya jadi manusia *dum durum dum..."
|
Oke. Jadi kalau rambut mulai rontok, gunduli saja.
 Bang Adam dari U2. Lihat tuh brewoknya.Barangkali bukan satu atau dua kali kita melihat sebuah iklan obat yang sanggup untuk menumbuhkan brewok segahar raja-raja jaman baheulah, atau sepanjang janggut orang tua jago silat dalam film kungfu mandarin. Saat saya masih polos-polosnya kecil, saya berpikir keren juga kalau punya jenggot seperti itu. Hohoho. Baik. Saya beritahu sebuah rahasia kecil. Bagi kalian yang masih punya mimpi untuk membeli obat untuk menumbuhkan brewok atau janggut, sebaiknya buang mimpi itu jauh-jauh. Kubur dalam-dalam, bakar sehangus-hangusnya, pokoknya buang saja impian itu. Semua kehancuran impian masa kecil itu berawal dari tumpulnya mesin pencukur dengan begitu saja bersamaan dengan saat april mop ngulet. Bukan sebuah kebetulan bila usia pencukur tersebut sudah mencapai tahap uzur untuk sebuah barang elektronik. Tapi, buset . . . saat nyadar kalau rasa malas mencukur dengan alasan tumpul itu menggerogoti, dagu pun ikut protes : "gatelnya minta ampuuunnnnnn oeiiiiii !!". Sumpah. Sabun pun tidak bisa mengatasi rasa gatal itu selama saya bekerja. Dan jangan sekali-kali mengungkit tentang silet semacam Gillette. Memori mencukur secara manual itu sebaiknya tidak diungkit lagi.  Contoh bahaya mencukur dengan silet. Bisa-bisa salah cukur.Tetapi rasa gatal bukanlah penyebab utama matinya impian itu, melainkan cepatnya perkembangan brewok. Kalau jahe makin tua makin pedas, kambing makin tua makin bandot, maka brewok makin dicukur makin cepet tumbuhnya. Pernah sekali saya membaca cerita Shinchan - banyolan yang belum mati-mati juga - tentang sebuah situasi dimana sang Ayah mencukur jenggotnya di pagi hari, dan mulai tumbuh kembali di siang harinya. Selain peran lain brewok yang diceritakan dapat jadi pengikir kuku dan pemarut lobak dalam komik Shinchan, saya cuma bisa berpikir : emang ga ada kikir atau parutan yang lebih oke ketimbang brewok? Dan malamnya, sesudah saya terpaksa mencukur brewok ini dengan pencukur uzur itu (maafkan daku mesin cukur), saya dikutuk dengan sebuah mimpi : besok pagi saya terbangun dengan brewok yang jauh lebih dahsyat, bahkan ketimbang rambut saya sekalipun. Saya belajar satu hal lagi : benda elektronik pun harus diperlakukan dengan baik jika anda ingin menuai karma baik. Jadi inget. Mas Pepeng, piye bini barumu? Dikasih thong? Baik. Ini berarti sebuah misi baru : mencari mesin pencukur yang baru. Yang uzur dimuseumkan, yang baru terlahir kembali. Mati satu tumbuh seribu, tumpul satu beli yang baru. Tapi, kenapa repot-repot harus cari mesin pencukur yang baru sementara saya bisa saja mencabutnya berbekal 2 keping uang logam 500 perak? Berguru dengan kenek kopaja 27 jurusan Senen-Gading juga bisa. Baik, alasan saya adalah sebagai berikut. Pertama, saya bukan pecinta metode sadomasokis. Sama halnya dengan metode nyabut bulu kaki pakai wax. Mending saya nangkep kecoak. Rasanya kadar kesadisan antara cabut rambut dengan wax dengan menangkap kecoak hampir setara. Jadi, anda bisa simpulkan kalau........ Kedua, dengan alasan agak sedikit medis. Konon, rambut akan tumbuh di tempat yang butuh perlindungan lebih. Seperti halnya rambut di ketiak dan rambut di tempat xxx, ternyata disitu tempat dimana pori-pori lebih besar. Saya belum cari artikelnya, dan cuma tahu dari acara Oprah Winfrey. Jadi, jangan sekali-kali cabut rambut di ketiak anda. Meski anda pria, bisa jadi anda kena kanker payudara. Begitu anda cabut, pori-pori bisa membesar, zat asing masuk ke pori-pori, pembuluh darah, dan voila. Jadilah daging baru atau makhluk baru di badan anda. Sebaiknya dirapihkan saja, tapi jangan pakai silet. Jadinya, pakai apa donks? Gunting biasa juga bisa selama bukan pisau dapur.
A love letter from developer to user : Dear user, Before asking a questions, especially an idiotic one, please, I beg you, READ THE FUCKING MANUAL FIRST!!!!!!!! Best regards, developer-who-create-what-you-want
Lagi seneng sama lagu Sindetosca yang judulnya Kepompong. Dulu kita sahabat Teman begitu hangat Mengalahkan sinar mentari Dulu kita sahabat Berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu
Kini kita berjalan berjauh-jauhan Kau jauhi diriku karena sesuatu Mungkin kuterlalu bertingkah kejauhan Namun itu karena kusayang
Persahabatan bagai kepompong Mengubah ulat menjadi kupu-kupu Persahabatan bagai kepompong Hal yang tak mudah berubah jadi indah Persahabatan bagai kepompong Maklumi teman hadapi perbedaan Persahabatan bagai kepompong na..na..na..na..na..naBuat RDT : yuks, ngopi yuks. Buat Yogi : na..na..na..na..na..na..
Dear God, Just wanna say "Hi".
I was standing All alone against the world outside You were searching For a place to hide
Eagles - love will keep us alive |
I'm kinda like this songs. It's kinda memorable for guy like me, who currently drowns inside uncertainty.
I'll be looking at my window seeing Adelaide sky Would you be kind enough to remember I'll be hearing my own foot steps under Adelaide sky Would you be kind enough to remember me
Adhitia Sofyan - Adelaide sky |
Baru aja kenalan sama lagu ini via Yogi. Katanya sih sering diputer di radio. Sori pren. Daku jarang puter radio, cuman bisa puter mp3. Hehehe...
Stupid memory Must you bring up these things?
Sondre Lerche - stupid memory |
Jadi kesengsem sama lagu ini pas inget... ah, masa muda. Istilahnya Roma Irama tuh "darah muda". Kacrut ah.
I will try to stop you now from leaving Cause in My Heart I know Love will lead you back Some day I just know that Love will lead you back to my arms
Taylor Dane - love will lead you back |
Nah, yang ini sih, berkat shuffle dari playlist rekan kerja, dan selanjutnya, gue rampok. Jadi inget masa-masa ingusan dulu. Bisa kenalan sama Metallica, Roxette, Bjork, Duran-Duran, Madonna, and Babylon Zoo lewat MTV. Ngaco abis. Tapi bukan cuma itu. Mau tempe kelanjutannya? Dan siapa bilang lagu enggak bakalan bisa membentuk karakter seseorang? Hidup gue itu bisa dibilang sebagian besar tersusun atas komposisi melodi yang beragam, dimulai dari metal, rock, dan pop, serta mengesampingkan dangdut, apalagi keroncong. Maaf, bukannya rasis, tapi gue masih bisa lebih menerima lagu "Isabela"-nya Dedi Dores (maaf kalau salah eja -red) ketimbang "Kopi Dangdut". Walhasil, ya, hancur begini karakternya.
Akibatnya, sekarang susah kalau hidup terlepas sebentar saja dari musik. Boleh dikata nyaris kecanduan. Mungkin kalau ada terapinya, rokok bakalan kalah... baru mungkiiiiiiin. Terus, kalau dikata tadi genre dangdut sama keroncong di-diskreditkan, sekarang lagu-lagu yang terkesan ngasal pun saya kredit-macetkan. Maaf, tapi kenyataan bahwa gue ga bisa nerima lagu ngasal itu, pendapat gue pribadi. Tahu lagu "Oke"-nya K2? Atau H2 yah? Ah, tauk ah. Itu lagu - jujur - jelek. Bisa-bisanya kepikiran buat lagu kayak gitu.
Tapi, musik bukan cuman sekedar nada. Lirik juga bisa dibilang jiwa dalam sebuah lagu. Yah, dengan pasaran ecek-ecek di industri musik Indonesia yang kebanyakan isi liriknya tentang cinta gombal, berarti hanya nada yang bisa dipatri 100% asik. Padi, Netral, Gigi, /Naf, mereka masih hebat. Pendatang baru seperti Afgan juga tak mau kalah dari generasi tua senior. Adhitia Sofyan juga maknyus tuh. Cuma, ya, selama enggak bikin lagu sejelek "Oke" tadi, udah salut deh gue *apaan.
Sama halnya dengan film, kemajuan tema cerita dalam industri hiburan juga enggak jauh-jauh dari percintaan dan perhantuan. Aspek lain masih minim. Seperti film "Ayat-ayat cinta" yang booming akhir-akhir ini, ya gue belon kepengen nonton sih apalagi karena film Indonesia yang baru diputar di bioskop, pasti masuk stasiun TV minimal 6 bulan kemudian. Tapi, lagu OSTnya Ayat-ayat cinta itu keren. Gue demen dink. Si Melly oke banget deh. Yah, gue enggak bakalan protes, selama film yang dibikin enggak sejelek film "Love is cinta". Sumpah, itu film ter-JELEK (sekali lagi dengan huruf kapital : JUELEEEEEEK) yang pernah gue lihat seumur-umur (sekali lagi : JUUUEEEEELEEEEEEEEEEKKKKKKKKKK!!!). Biasanya, film yang tergolong kurang bagus, tetep gue ikutin sampe akhir. Lha, ini, saking jeleknya... males gue.
Oke,sebelum gue melenceng lebih jauh, kayaknya gue butuh hiburan lebih dari sekedar mangascan, game, dan mp3.Tapi apa yang oke yah? Cuti ke Bali kayaknya asik.
PS : Mood karaokean gue jadi balik. Hehehe...
|