
Source : www.despair.com
Berarti gue selama ini diajarkan supaya bisa masuk neraka. Yes, satu resolusi akan tercapai! Go baby, go!
|
Sudahkah anda tim-pang hari ini ? |
||
Saturday, March 29, 2008Blame
Syarat utama untuk sukses di dunia kerja dan dunia sosial, tapi bukan di dunia akhirat:
![]() Source : www.despair.com Berarti gue selama ini diajarkan supaya bisa masuk neraka. Yes, satu resolusi akan tercapai! Go baby, go! Tuesday, March 25, 2008Elitism
Punya keluarga itu adalah suatu berkah. Tapi punya keluarga keluarga besar dengan mengadu tingkat kesuksesan anaknya berdasarkan uang, rasanya agak...
![]() Source : www.despair.com Elitism is another prove of "ekonomi-sulitism". "Karenanya, duit itu penting !" ~ kata wong asu. Dasar asu. So, for this situation, there're some good quotes to seize the remaining days : 1. "Money is not everything. There're Mastercard & Visa." 2. "God made relatives; Thank God we can choose our friends."
Saturday, March 22, 2008Procrastination
If you can do it tomorrow, why do you have to do it now?
![]() Picture courtesy by despair.com Personally, I prefer enjoy my long long journey, even if I have to pay a LOT for it. How about you? Friday, March 21, 2008Worm . . . ?
The current theme of this world, in my mind, is about devour or be devoured. Strong individual survives and weakling dies. Hereby, I present you (again), a picture from despair.com.
![]() Early worm, late worm, it doesn't make any differences at all. The only question for you is : still want to be worm? Tuesday, March 18, 2008Adversity
Some people always say "What doesn't kill you, makes you stronger." But, as time goes by, I think it depends on someone / something that wants to kill you. Hereby, I present you a picture from despair.com.
![]() So, still believe that old quote? I rather say . . . 50:50. Friday, March 14, 2008Luka itu tak pernah terobati . . .Anonim Dimulai dari cerita singkat dari adik saya yang sedang reuni di Pizza Hut cabang Muara Karang. Ya, namanya anak muda, bisa jadi sedikit terlalu bersemangat jika sedang berkumpul bersama-sama. Bagian yang selanjutnya tidak begitu menyenangkan untuk didengar. Seorang bapak marah-marah akibat suara riuh kelompok reuni tersebut. Disusul tamu-tamu lain yang ikut-ikutan mendukung bapak tersebut. Mungkin akan lain ceritanya kalau adik saya dan teman-temannya tidak meminta maaf atas kelakuan darah mudah mereka. Tapi, di posisi saya sebagai pendengar, tentu saja kesalnya bukan main. Kenapa bapak itu tidak bisa berkata baik-baik? Tak ada pegawai Pizza Hut yang sanggup menengahi, berhubung tamu adalah raja. Saya yang sudah terlanjur panas dengan cerita itu, diingatkan kembali oleh ayah saya untuk tidak diburu oleh nafsu. Perkembangan cerita pun dimulai menuju sebuah kenyataan tak terelakkan : rombongan anak muda itu semuanya keturunan. Dan ayah saya memuji adik untuk tindakan meminta maaf kepada para tamu di Pizza Hut tersebut. Saya yang mulai terheran-heran, mulai diberikan kesempatan mendengarkan ceramah berkepanjangan dari ayah saya. Sebuah cerita yang flash back ke tahun 1998. Orang Indonesia mana yang tidak tahu akan tahun berdarah itu? Dan orang keturunan mana yang tidak trauma akan hal itu? Saya yang saat itu masih duduk di bangku SMP III, sangat takut dengan keadaan saat itu. Beruntung, saya masih tinggal di sebuah lingkungan yang tidak terlalu kental dengan masalah SARA. Tetap,saya masih menganggap masalah di Pizza Hut tersebut belum selesai. Restoran adalah sebuah tempat umum, dimana semua orang dapat melakukan perbincangan, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa perbincangan itu ramai luar biasa. Dan tahu apa yang dilakukan ayah saya? Beliau mulai bercerita tragedi yang ia saksikan sendiri di tahun 1966 di Medan : sebagian besar warga keturunan itu diburu karena disangkutpautkan dengan komunisme. Rupanya pada masa itu, semua jeruk dianggap manis, dan tak ada jeruk yang asam. Dan ayah saya masih menganggap bahwa aura buruk tahun 1966 dengan sekarang tidak ada bedanya sama sekali. Menurut ayah saya, menghilangkan isu SARA dimanapun di dunia ini adalah sesuatu yang mustahil. "Petuah" itu juga berlaku untuk negara yang saya anggap ramah selama ini : Indonesia. Malam ini, detik ini, hal itulah yang diajarkan kepada kami berdua, saya dan adik saya, sebuah persepsi bahwa kami masih, dan akan terus, direfleksikan sebagai CINA! Bukan warga Indonesia. Saya tidak bisa mengatakan bahwa "filosofi" dari ayah saya itu salah, tapi saya sendiri tidak bisa membenarkan "filosofi" itu. Katakanlah saya ini masih percaya dengan kalimat bahwa orang Indonesia itu ramah. Ayah saya hanya menggeleng-geleng sambil berkata "Nak, itu utopia. Selama kita tidak tinggal di lingkungan tanpa pembedaan, kita hanya dianggap tamu - ya, T-A-M-U dengan huruf kapital - meski kita menggunakan bahasa yang sama dengan mereka. Kamu tahu sendiri kalau berbagai media masih sering menggunakan kata 'keturunan' kepada kita, bukan warga Indonesia. Itu pembedaan yang jelas-jelas masih bisa terasa." Dan kamu tahu? Saya kehabisan kata-kata. Meski hal ini dimulai dari hal yang sepele, yaitu bapak tak dikenal tiba-tiba marah karena darah muda serombongan anak muda yang sedang reuni, efek domino yang dihasilkan sedemikian parah untuk saya dan adik saya. Bapak itu hanya tamu, dan bukan pemilik Pizza Hut. Kenapa juga harus marah-marah? Saya hanya ingin tahu hal itu. Tapi jawabannya tak pernah saya peroleh, karena sudah tergusur komposisi masalah ras. Luka itu tak pernah terobati. Waktu tak mampu menggeser masa lalu. Ya Tuhan . . . Tahu lirik lagu dari acara lenong di TransTV? Eh hujan gerimis aje Ikan teri diasinin Eh jangan menangis aje Hal kecil jangan dipikirin Setidaknya, yang saat ini bisa saya lakukan, hanyalah menghindari makan di Pizza Hut cabang Muara Karang. Saya sedang tak ingin "filosofi" yang dikatakan ayah saya benar-benar terjadi. Monday, March 10, 2008Like you lah![]() Dalam hidup, kalimat "apa yang kau tabur itulah yang kau tuai" terkadang - atau sering - bisa salah sasaran, terutama jika bukan kita sendiri yang "menanam" benihnya. Dalam acara snapshot stasiun Metro TV - saya lupa nama pembawa acaranya - mengatakan bahwa kesadaran itu sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Ya, itu bagus. Tapi, bagaimana jika lingkungan sekitar kita yang enggak pernah sadar akan perbuatannya sendiri? Contoh sederhananya, ya banjir. Kalau mantan gubernur Sutiyoso bilang bahwa banjir itu adalah bencana alam, saya hanya bisa bilang "suka lu lah", atau kerennya "like you lah". Mari kita bahas satu topik banjir ini dalam satu kacamata usang. Pada bulan puasa tahun 2007 kemarin, sebagian besar umat Islam larut dalam suasana untuk menjalankan satu dari 5 kewajibannya, yakni berpuasa. Tapi, bagi yang menciptakan kalimat "kebersihan adalah bagian dari iman", pasti akan meringis ketika ia berada di tempat saya saat itu, saat di mana saya mendengar suara adzan maghrib, dibarengi kalimat "Alhamdulillah" dari seorang bapak yang dilanjutkan dengan membuka sebuah botol aqua dan posesi meminum isinya sampai ludes, hingga botol aqua yang kosong itu dibuang sembarangan begitu saja. Ya, bagi anda yang merasa pernah mengikuti ritual itu, saya cuma bisa bilang "like you lah". Asal kalau tempat anda banjir atau kebanjiran gunung sampah atau ketimpuk botol bekas, jangan protes. Ingat "apa yang kau tabur itulah yang kau tuai". Tapi bagi anda yang tidak pernah mengikuti ritual bapak-buang-aqua tadi namun tempat anda kebanjiran, saya bisa memberi anda sedikit utopia ringan : jatah anda masuk Surga ditambah karena anda tidak terlibat dalam proyek banjir akibat sampah. Jangan tanya tambah berapa, karena Surga bukan tempat untuk rapat umum tahunan divisi marketing. Kalau memang mau tahu, kirim saja proposal ke Surga untuk tanya insentif masuk Surga anda berapa persen. Itu baru satu sisi. Sisi lainnya yang bisa saya bilang "like you lah" itu, adalah rokok. Dalam salah satu tulisan mengenai tuhan sembilan senti itu - saya lupa siapa yang menulisnya - image tentang perokok dalam iklan yang gagah perkasa itu terbanting total jika diterapkan sembarangan dalam hubungan sosial - atau tepatnya, sok sial. Contoh sederhana, yang bukan satu atau dua kali terjadi, adalah perokok dalam angkutan umum. Banyak perokok - tua muda kurus gemuk kinclong kumel - yang menghisap rokoknya dengan penuh kesadaran dan khidmat di sebelah seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita nan imut. Dan saya juga bukan orang yang suka asap rokok, tapi tetap tidak bisa bilang "Mas, tolong matiin rokoknya dong. Saya enggak tahan asap rokok..." dengan mudah. Tahu apa yang lebih mudah? Bilang "like you lah". Bagi yang merasa pernah dan sedang menjalani profesi perokok di angkutan umum atau kawasan bebas rokok, dalam kesempatan ini, ijinkanlah saya mengucapkan 'Kalau mau mati, jangan bawa orang asing yah. Entar emak elu kaget, terus ngomong "Eh, Tong, sape ini? Temen elu? Mati koq bareng-bareng. Emangnye udah janjian?' Begitu banyak kacamata usang yang dianggap angin lalu, namun tetap dipertahankan tanpa pernah dijalankan sama sekali - oke, jalan sesekali. Sebuah kebudayaan yang memang sudah mendarah daging dan lazim dengan embel-embel "asal bapak senang" dan "like you lah". Seperti kasus ibu hamil yang kekurangan gizi dan akhirnya harus digelari status almarhum tanpa pernah membawa tawa seorang anak baru dalam keluarga. Bukan satu atau dua kali ini Indonesia - yang katanya "kaya" itu - memiliki kasus serupa. Karena itu sudah biasa toh? Memang banyak elemen yang bisa mengutuk dan mencibirkan bibirnya sampai dower. Tapi setelah itu? Berulang lagi. Biasa toh? Karena itu, saya pernah tulis dalam blognya mbak Yati bahwa Indonesia masih terlalu cepat untuk diberi sistem demokrasi. Wong bikin KTP aja yang seharusnya gratis, ternyata masih harus bayar 10 ribu untuk "mempercepat" kepemilikan. Entah cuma buat Cina atau enggak, tapi kalau di lingkungan sini, Cina-nya yang sering kena. Demokrasi dari mana kalau kesadaran untuk hidup lempeng aja enggak ada? Memang, cari kambing hitam paling enak. Apalagi yang sudah jadi institusi. Makanya, saya senang begitu bisa menginjakkan kaki ke luar Indone-sah ini. Saya butuh negara dengan sistem yang jauh lebih teratur. Tersinggung? Ah, like you lah. Wednesday, March 05, 2008Mana yang lebih buruk? Kemarin gue ditanyain soal ini : mana yang lebih buruk? - Membunuh seseorang demi menghentikan penderitaannya. - Memperpanjang penderitaan seseorang dan dengan sengaja memperparah penderitaannya. Dan elu tau? Gue ga bisa jawab. Setidaknya itu jawaban yang jujur dari dari kacamata gue sendiri. Kalau elu, jawabnya apa? *sebuah inspirasi dari cerita pendek Kappa dalam buku Rashomon karya Ryunosuke Akutagawa.
Subscribe to:
Posts (Atom)
|
||
|
|
||
Blog Archive
|
About Me
|
|