Sudahkah anda tim-pang hari ini ?
|
Sudahkah anda tim-pang hari ini ? |
|
Thursday, February 28, 2008Monday, February 25, 2008A lady
Dear God . . .
I forgot to bring my cameraaaaaaaaaa !!! I regret that I cannot capture such . . . beauty. You know God, she's beautiful. Very beautiful. I think that Your mood was very good when You designed her. But I completely grateful for such conversation. Thank you God. Monday, February 18, 2008Waktu itu terus bekerja...
Bukan tentang hal-hal kecil ataupun dunia yang melawan kita, tapi tentang bagaimana perubahan selalu ada. Saya rasa, bukan hal yang aneh jikalau kita merasa ingin diam di tempat, sementara waktu terus mengalir dengan derasnya, dan memaksa diri kita untuk selalu berubah, meski bukan pola pikir yang berubah. Ingin saya mengucapkan "I'm not the one who changes. It's you.". Tapi tidak. Tidak bisa. A big "NO".
Meski bukan satu atau dua kali saya mengutuki diri sendiri mengapa tidak menyempatkan diri berkumpul atau berkunjung ke tempat teman, dan bukan diri sendiri yang berinisiatif untuk itu, ya, saya hanya inging menyalahkan jadwal pekerjaan yang serasa hampir tak ada habisnya, tapi tak bisa. Dalam satu minggu hanya ada tujuh hari, dan tak lebih. Saya ingin sekali, meskipun hanya 10 menit, bertemu dengan kalian-kalian lagi. Tapi tampaknya, dunia maya adalah satu-satunya cara alternatif untuk berkomunikasi sekarang ini. Masih ingatkah kalian akan mie celor atau lauk tahu telur di kampus ? Masih ingatkah kalian akan ruangan sekretariat tempat kongkow-kongkow ? Masih ingatkah kalian akan segala aktivitas yang pernah kita lalui bersama ? "Dan disinilah gue, mengutuki diri gue sendiri..." - penulis Friday, February 15, 2008Kerja ?![]() Menjelang hari besar, biasanya, tepat jam 12 malam, handphone saya diberkahi suara SMS yang mengucapkan selamat hari raya. Tentunya, saya merasa senang dengan diberkahi orang-orang yang masih ingat akan keberadaan saya, meski keberadaan saya sendiri patut dipertanyakan sekarang ini (bukan berarti menghilang atau menyeberang ke alam lain loh.). Namun, keberadaan SMS itu mirip semacam sebuah gejala cause-effect, dimana jika saya mendapat SMS berisi ucapan selamat, jikalau saya kalah cepat, tentunya saya akan melakukan program auto-reply. Saya yakin, bukan hanya saya seorang saja yang melakukan hal ini. Nyaris ketagihan ? Bolehlah dikata demikian. Namun, tinggal di kota besar seperti Jakarta, dengan jutaan orang di dalamnya, terkadang, saya masih merasakan sepi. Bukan berarti dengan banyaknya teman dan rekan kerja yang selalu dengan antusias penuh mengisi hidup saya dengan canda tawa, pekerjaan, humor, dan kewajiban, saya akan terbebas dari rasa sepi. Orang bilang, being single is a bliss. Namun bagi jomblo ahu-ah-elap seperti saya, jauh dari orang-orang yang dulunya sering menjadi lawan bicara yang asyik, rasanya menciptakan kekosongan tersendiri. Waktu tidak akan pernah bertambah menjadi 72 jam dalam sehari. Dan waktu pula yang membimbing kita semua menuju jalan yang berbeda-beda. Niscaya, jikalau nasib berbaik hari, kita semua akan bertemu kembali di kala rambut memutih dan kulit keriput, mengenang masa-masa yang indah. Berbicara soal jalan, merasa jalan di tempat adalah sesuatu yang akut bagi saya sekarang ini. Krisis yang menimpa negara ini mulai menimbulkan berbagai gejolak yang pastinya berefek pencarian mata pekerjaan yang lebih baik di negara orang. Ya, bukan negara sendiri. Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk memperpanjang passport, dengan harapan, saya bisa mencapai negeri sakura dan negeri matahari terbit. Yang membuat saya cukup terkejut, adalah antrian calon TKI yang sangat banyak. Padahal waktu masih menunjukkan jam setengah 9 pagi. "Hampir setiap hari suasananya seperti ini" kuping saya mencuri dengar dari salah seorang pekerja. Oke, bayangkanlah. Saya yang cukup bersyukur dengan gelar sarjana versus mereka yang mungkin hanya lulus SMU atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Dengan inisiatif, atau mungkin tekanan hidup yang kian hari makin bertambah berat, mereka menempuh jalan ini. Seriously, rumput tetangga tetap lebih hijau. Paman Tyo punya artikel dengan gaya sendiri mengenai pekerjaan. Iming-iming dan dukungan (atau mungkin harus saya sebut tekanan, berkat kata-kata "ngekor" di belakang mereka-mereka yang lebih dahulu mengadu nasib di luar sana) dari pihak keluarga pun datang. Singapore, Australia, Jepang, China, Taiwan, Jerman. Itulah alternatif negara tempat bekerja yang mereka suguhkan. Persis ketika saya dihadapkan dengan sebuah menu berisi ratusan hidangan yang belum pernah saya coba sama sekali. Singapore dan Jepang adalah yang paling membuat saya meneteskan air liur. Alasannya sederhana : rekomendasi. Rekomendasi dari teman dan saudara yang telah lama bekerja disana, hingga telah menjadi warga tetap disana; itulah yang membuat saya ingin sekali mencicipi seperti apa kehidupan di negara lain. Tapi, bila dibandingkan dengan kata ngekor... ah, sudahlah. Bukannya mau munafik. Tetap saja unsur gaji adalah unsur yang paling utama. Sebelum lebih jauh, mari saya ajak anda berhitung. 2 tahun lalu, standar gaji seorang fresh graduate (S1) adalah 1,8 juta rupiah. Bila kondisi ini tidak berubah hingga sekarang, mari kita berandai-andai. Gaji 1,8 juta rupiah, dikurangi biaya kost - anggaplah 500 ribu - beserta biaya makan sehari-hari (paling hemat 2 kali sehari, masing-masing minimal 6000), dan biaya transport untuk pekerjaan (anggaplah 2 kali naik kendaraan umum pulang pergi, masing-masing 2000), berarti akan kita dapatkan : 1.800.000 - (500.000 + (2x6000x30) + (2x2000x30) ) = 1.800.000 - 980.000 = 820.000 Dengan kondisi yang sama, bila bekerja di Singapore, data yang saya peroleh dari teman dan saudara-saudara saya, adalah sebagai berikut : dengan minimal gaji 2000$ Singapore, biaya tinggal 500$ Singapore, dan untuk kebutuhan sehari-hari mencapai 1000$ Singapore, nilai nominal bersih yang bisa kita peroleh = 2000 - 1500 = 500$ Singapore. Kalikan dengan kurs Indonesia (anggaplah 6000). Akan kita peroleh nilai gaji bersih = 500*6000 = 3 juta rupiah per bulannya. Untuk negara yang lain, belum saya peroleh data yang pastinya. Memang rumput di negara sendiri sudah terlalu... [anda isi sendiri deh]. Krisis sudah mencapai tahap yang mungkin sulit untuk berubah jika akarnya tidak pernah dibersihkan. Akankah saya mencoba sebuah menu yang belum pernah saya cicipi sebelumnya, hanya Tuhan yang tahu, dan waktu pula yang bisa membimbing saya menuju jawaban yang pasti. Thursday, February 14, 2008Wednesday, February 13, 2008Question of the day
Is it bad if we think too much ? Cause every possibilities lies all over the world.
Sunday, February 03, 2008Ditimpakan tanggung jawab . . .
1.
Memaki dalam hati. 2. Berpikir kenapa hal ini bisa terjadi. 3. Menelaah, dan mungkin, berusaha, menerima semua fakta yang ada. 4. Berdiam diri sebentar. 5. Mungkin ini memang karma. 6. Berpikir bagaimana seandainya hal yang lebih buruk dari kejadian ini terjadi pada orang lain. 7. Tertawa. 8. Kalau anda ? Friday, February 01, 2008What I'm trying to achieve
See this.
"If you are still living, it's because you have not yet arrived at the place you should be." - Maktub, by Paulo Coelho.
Subscribe to:
Posts (Atom)
|
|
|
|
|
Blog Archive
|
About Me
|