Keteraturan tanpa hidup atau hidup tanpa keteraturan
. . .
Siapa yang suruh ?
|
Sudahkah anda tim-pang hari ini ? |
|
Friday, December 28, 2007Siapa yang suruh ?Keteraturan tanpa hidup atau hidup tanpa keteraturan . . . Siapa yang suruh ? Wednesday, December 12, 2007Colong ?
Jeng Nia nulis ini :
Bikin 8 Resolusi hidup kamu untuk 2008... (WAJIB - ga kurang ga lebih - ) Sebarkan ke 8 orang, yang kamu tunjuk dan kamu anggap dia perlu perubahan, dan sebutkan alasan kamu : kenapa milih dia. Kamu mesti mampir ke 8 orang tersebut, untuk ngasih tau bahwa mereka dapet PR dari kamu... Oow . . . Gusti . . . ditimpa script sudah cukup bikin terbahak-bahak. Andaipun ada, mungkin saya lebih suka merahasiakannya. Dunia bisa menjadi tempat yang seram, karena sebagian besar dari penghuninya sudah tutup mata akan impian orang lain (dan yang paling parah : iri). Kalau begitu, sebagai orang yang pesimistis (pada dasarnya, hampir sama dengan tidak suka berharap terlalu tinggi . . . hehehe . . .), berikut saya tuangkan 8 resolusi colongan tahun ini (well, mungkin taon depan juga) supaya tak kecolongan : 1. Jalan-jalan ke Jepang. Sumpah. Satu-satunya tempat dimana gue kepengen ngeliat sakura di negara kelahirannya sendiri. 2. Jalan-jalan ke tempat dimanapun padang raksasa lavender berada. Di luar analisa-analisa ngawur tentang warna kesukaan, ternyata gue bisa suka warna ungu (gue sendiri juga ga sangka). 3. Ngeliat salju. Jadikanlah satu paket dengan jalan-jalan ke negara Jepang. Ga tau kenapa, pokoknya gue insist ke Jepang. Wakakak . . . 4. Kerja di Singapur. Mungkin ga bisa dibilang resolusi ini tumbuh dari diri sendiri. Alasannya ? Agak pribadi sih. Tapi, negara ini kecil-kecil caberawit juga. 5. Punya rumah sendiri. Woh, jelas ini. Secara gw mengidamkan rumah minimalis yang sesuai dengan kepribadian gw (*huek*). 6. Ngerasain gimana rasanya jadi seorang ayah. Bukan berarti gw demen 100% sama anak-anak (terutama yang buandelnya minta uampun). Tapi ngelihat anak kecil tertawa, rasanya gw menemukan apa yang enggak pernah gw punya (atau punya, tapi gw dengan sengaja ataupun tidak, melupakannya begitu saja.). 7. Nulis buku. Tapi nulis apaan ? Kemampuan gw yang dilatih sebagai peniru, berakibat pada kumpulan tulisan yang terlahir prematur tanpa pernah tumbuh dewasa. Mbak Dee, Mr. Paulo, Mbak Sekar, Mbak Djenar . . . kapan saya bisa ketemu kalian (buat mbak Dee : kapan ketemu lagi yeh) ? 8. Punya pendapatan pasif tetap hingga tua nanti. Ga muluk-muluk banget yang ini. Kalau dibilang disuruh nyebarin, nhaaaaa . . . ini yang susah. Saya pikir-pikir dulu. "Supaya enggak mati ketimpa script" ~ Aradha. Tapi, biarlah bapak RDT sebagai seorang pujangga-invisible dan ibu Fany sebagai wanita yang mandiri memulainya. Monggo . . . gak usah mbrebes mili . . . aku iki loro edan . . . wakakak . . . Tuesday, December 11, 2007IWGP
IWGP - Ikebukuro West Gate Park
If you never read it, then I suggest to do so. Though it's simple, I think it can happen in reality. Just imagine that people would sell his/her body part just for money. Well, poverty is strong enough to change one's mind. Almost been there, almost done that. Wanna imagine another country with poor people ? Take Indonesia for example. No offense, but I'm just curious with this kind of thing. Not so long ago, I heard a news about someone who sells one of his kidney 'cause he was run out of cash , plus close to poverty. He said that this is a common thing in his neighbourhood. Kinda ironic to say that words coming from a person whose country is "rich" (if I could say so). Guess what ? His kidney, one of important support system in his life till death do he and his breath apart, is worth only $10.000. No wonder then. With that, poverty is a mere past. Buy one to get one.Free of charge ? Wrong. He has to suffer untill he die. It's no need to tell you how uneasy to run a life with one kidney. Imagine that. Here's another question : where is his kidney ? An investigation done by some thick-head reporters gives an answer : Singapore. Though it's an unreliable result, some people will believe as long as there's no another culprit that can be blamed. Even if it's true, I don't think that the kidney is still there. May be it has been used by another person whose kidney cannot be used anymore. Back to IWGP, a manga (fiction of course) where some S&M maniacs will pay lots of money just to see one cut his tongue, chest, etc. Though it ends with happy-ending version, still I wonder if that will happen in reality. Mind this. Not only body-part-sellers, but also "children-eater" (paedophile) & friends are common things in this life. Just like Sodom-Gomorah eh ? Wonder what will happen in the next 10 years. Don't use bullshits like "Money is root of all evil". In any case, I prefer to say that those case are probably side effects of "order without life". Ask yourself : "Is somebody or something controlling my life ?". I doubt that your answer will come into a single "No". Welcome to everlasting samsara. Friday, December 07, 2007Leadership ?
"Setiap pekerjaan pasti punya resikonya. Kalau tidak siap dengan konsekuensinya, ya, jangan pernah terima pekerjaan itu." adalah kata-kata yang pernah saya keluarkan ketika seorang teman curhat soal lingkungan kerja barunya, yang mana, dinilainya kurang ramah. Hal yang sama mungkin pernah menimpa anda, dengan kategori permasalahan yang sama atau berbeda. Sekarang, giliran saya yang harus menuangkan unek-unek mengenai pekerjaan, yang mana, menurut saya, mulai keluar jalur.
Anda pernah baca komik Sylphid karya Yukihisa Motojima ? Bagi yang tidak tahu, itu adalah komik dari Jepang bertemakan olahraga pacuan kuda. Bagi yang tahu, masih ingat Zanzibar ? Saya review sedikit. Dalam olahraga pacuan kuda, bisa dibilang joki atau pemilik kuda merupakan pemimpin yang akan membawa kuda kepada kemenangan atau jatuh dalam lumpur. Zanzibar bisa dibilang kuda yang kurang beruntung. Sebelum pacuan dimulai, pemiliknya selalu memutarkan sebuah kaset yang berisi ringkikan kuda sebelum disuntik mati. Ya, pemiliknya bukan tipe orang yang dapat menerima kekalahan dengan lapang dada. Tentu saja, Zanzibar, bereaksi sesuai dengan apa yang saya sebut "teori kejepit". Ia harus menang, atau mati. Kalimat "menang penjara, kalah neraka" sangat tepat untuk hal ini. Lucunya, hal seperti ini justru mulai mencuat kembali bertepatan dengan sebuah e-mail yang berisikan artikel yang mirip dengan "teori kejepit" ini. Dikatakan bahwa, dalam keadaan terdesak, seseorang dapat melakukan hal yang tidak disangka-sangka. Tikus yang terdesak bisa menggigit singa. Bayangkan saja begitu. Dalam pelaksanaannya, misalkan dalam sebuah tim, yang konon harus bekerja sama supaya tujuan dapat tercapai, "teori kejepit" ini bisa dipakai. Sayangnya, teori yang digunakan dengan jalan yang salah, terkadang dapat berakibat buruk. Persis film "Butterfly Effect". Kembali ke Zanzibar. Antara penjara atau neraka, ia lebih senang menghadapi penjara dengan cara apapun, bahkan bila ia harus menggigit joki atau kuda pacuan yang lain sekalipun. Dogs are loyal, but don't forget that they can bite too. Satu hal yang menarik. Rasa takut harus ditanamkan supaya hal itu terjadi. Biasakan hal itu kepada orang-orang yang bekerja untuk anda, dan anda hanya akan mendapatkan efek landak. Zanzibar adalah salah satunya. Demikian halnya perbandingan yang bisa saya ungkapkan sampai ketika peristiwa itu terjadi, dimana salah seorang anggota tim dimarahi oleh team leader dihadapan seluruh anggota tim untuk alasan yang mungkin kurang bisa dipahami. Efeknya sudah jelas. Landak. Otomatis, beberapa anggota tim yang lain juga bereaksi sama. Diibaratkan sebuah tali gantungan telah disiapkan untuk masing-masing leher, dan jika tidak ingin mati, jadilah Zanzibar dan patuhi perintah. Akibatnya, setiap orang jadi menyelamatkan leher masing-masing. Konon, kepercayaan itu paling susah diraih. Jelas, kepercayaan kepada team leader sudah berkurang. Tapi, kembali lagi. "Setiap pekerjaan pasti punya resikonya. Kalau tidak siap dengan konsekuensinya, ya, jangan pernah terima pekerjaan itu.". Hanya saja, jujur, saya tidak suka (bukan lagi kurang suka) dengan cara "pancung" di hadapan banyak orang. Pendekatan personal sebetulnya bisa lebih baik, yang tentunya, dengan cara yang tepat. Meskipun tidak semua orang bisa dipuaskan dengan satu cara, tapi kalimat "sulit untuk bisa memuaskan semua orang" adalah kata-kata yang bisa disangkal dengan kalimat yang lain : "kenapa tidak ambil jalan tengah ?". Gus Pur mungkin akan berkata "gitu aja kok repot". Saya jadi teringat akan salah seorang Ustadz (maaf, lupa namanya) yang pernah curhat tentang masa lalunya, dimana ia memberi masukan tentang pernikahan. Diceritakan bahwa ia dimarahi oleh Ustadz lain yang lebih senior. Hanya karena sang yunior belum menikah, lantas sang senior menilai bahwa sang yunior tak pantas untuk memberikan masukan tentang pernikahan. Sang yunior mengingatkan kembali kepada sang senior ketika sang senior memberi ceramah mengenai kematian. Orang tak boleh menjilat ludahnya sendiri toh ? Lucu. Saya memang belum pernah jadi seorang pemimpin. Tapi, memberikan masukan tentang bagaimana seorang pemimpin yang saya nilai ideal rasanya sah-sah saja. Kalaupun tidak bisa diterima, jangan lupa bahwa semua hal ada resikonya. "Time, is another God of the mind" ~ [Disturbed - God of the mind]
Subscribe to:
Posts (Atom)
|
|
|
|
|
Blog Archive
|
About Me
|