"Hidup bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya, tapi berilah sebanyak-banyaknya kepada orang lain". Kurang lebih, itulah kalimat yang saya kutip dari buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Terus terang, hanya satu kata yang terlintas di benak saya ketika mendengar kalimat itu: HERAN. Alasannya ? Justru saya diajarkan sebaliknya. Lebih tepatnya, memakai hitungan plus persyaratan ala matematika. Ada beberapa ayat "sesat" (huahahaha) yang sempat diwariskan kepada saya. Inilah di antaranya. Yang pertama: "carilah harta sebanyak-banyaknya, nanti kebahagiaan akan datang dengan sendirinya". Yang kedua: "carilah harta sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara hingga umur kau 35 tahun, barulah kau bertobat".
Bila dikaitkan dengan mbanyolan lokal tapi masuk akal seperti "uang bukan segalanya, tapi tanpa uang, susah segala-galanya", saya jadi sempat bingung sendiri. Mana yang benar? "Benar itu relatif" celetuk adik saya. Dalam hati, saya hanya bisa dongkol sendiri. Sompret.
Tapi, tanpa harus bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian, ada satu kalimat yang masuk akal yang disampaikan salah seorang forumers : "Kalau mau nolong orang, harus ikhlas dan ga perlu maksa. Apalagi kalau elu sampe modar segala. Itu dodol-duren namanya." sambil menyilangkan jari di dahinya. Yah, untung belum sampai gila beneran.
Jadi, seperti biasa. Back to nature : logika. "Mau ngasih apa kalau elu enggak punya apa-apa ? Paling doa, pemikiran, sama ide.".
Alamak.
Istilah ini baru mulai dipakai (baca : dipopulerkan) di kantor tempat kerja saya, yang notabene, berawal dari permainan DotA. Kemudian menjalar ke "permainan" software development. Saya enggak bisa bilang "duniaku dan duniamu itu beda". Jakarta is Jakarta, tempat dimana nyaris semua kemungkinan terjadi (temen saya nyeletuk "Jakarta la yaaaaaaa"). Bagaimana tidak ? Ketika kita menawarkan semua perkembangan yang notabene lebih baik tidak instant, kemudian ibarat mie instant langsung ingin menginstantkan semuanya (temen saya nyeletuk lagi "Jakarta la yaaaaaaa"). Hidup serba instant memang tidak hanya ada di Jakarta, tapi setahu saya, sudah mulai ada dimana-mana. Siapa yang mau direpotkan ? Jarang. Kalaupun ada, sekali lagi, jarang. Apalagi di Jakarta (temen saya lagi-lagi nyeletuk "Jakarta la yaaaaaaa"). Enak itu relatif. Sama halnya enak dari hal yang instant. Relatif. Baik atau buruknya, ya relatif. Apalagi buat yang tinggal di Jakarta. Kata "relatif" itu rasanya sudah jadi saudara sendiri (iya, "Jakarta la yaaaaaaa").
Jadinya, mau tidak mau, biar lebih berkembang, kritis bisa menjadi satu alternatif yang baik untuk lepas dari kemalasan lokal dalam hidup, termasuk pekerjaan. Dikritik juga salah satu cara untuk bisa menjadi lebih kritis. Selama enggak masuk ke tahap krisis, ya amin deh (yoi, "Jakarta la yaaaaaaaaa"). "Sentil sini sentil sana, yang tersentil harus bijaksana". Bolehlah saya tambahkan "kalau enggak bisa bijaksana juga, sentilnya makin menggila". Siapa juga yang demen disentil keras-keras ? Mungkin hanya orang edan (ga heran la yaaaaaa, soalnya "Jakarta la yaaaaaaaaaaaa").
Amboinya, kalimat ala lawak ini cukup menghibur. Tersentil sedikit, tidak apa-apa. Toh, kita bukan robot. Masih manusia yang butuh rasa humor, perlu belajar, dan sedikit ice-break dari mumetnya segala persyaratan hidup. Kalau perlu, segelas ice-coffee untuk menyegarkan diri dari panasnya Jakarta.
Akhir kata, mari bersama-sama mengarungi belantara Jakarta. Anda tidak sendirian. Kalau memang mumet, nyeletuk saja "Jakarta la yaaaaaaaaaaaaa".
Rasa-rasanya, saya merasa bahwa saya sedang terlupakan saat ini. Tapi, yah, apa mau dikata. Setiap orang memiliki hal yang harus mereka selesaikan. Dan lagi, berhubung blogger memanfaatkan ssl, saya enggak bisa sering2 upload tulisan lagi. Jadinya, saya lebih memilih multiply, dengan alasan kemudahan akses.
Mudik sementara ke http://vscythe.multiply.com/.
|
|
|
|