Sudahkah anda tim-pang hari ini ?

Wednesday, June 28, 2006

Paranoid = 46%
Schizoid = 58%
Schizotypal = 62%
Antisocial = 42%
Borderline = 74%
Histrionic = 50%
Narcissistic = 10%
Avoidant = 38%
Dependent = 46%
Obsessive-Compulsive = 58%






Defect, are you ?

Sometimes I feel that it's so hard to express my true self. Whether other people feels the same (or not), I think, subjectively, it's natural. I don't know anything about my mental health. Well, at least there's some "hint" to diagnose what lies inside me. Take a look at previous note.

According to the test, which somehow I feel "wow-it-is-accurate", the highest probability about my mental defect is BORDERLINE. What is it ? Here are some explanation which is given by them :

Borderline Personality Disorder - individual shows a generalized pattern of instability in interpersonal relationships, self-image, and observable emotions, and significant impulsiveness.

For some cases in my life, it does make sense. And for some others, it doesn't. But, there again. Sometimes, I still shocked by some elements attached in my mind, such as my own disbelief to myself. Well, at least I'm trying to learn how to trust myself, do it, and re-learn it again. Some observation of mine shows that I am unstable. That's the very word. Hummmmm . . .

Do you believe me ? I suggest don't. Seize the day.

Monday, June 26, 2006

Sudahkah anda merasa timpang hari ini ?

Satu pertanyaan baru : anda senang disalahkan ? Mungkin bagi beberapa di antara kita akan menghasilkan output yang sifatnya otomatis : T-I-D-A-K. Dan meskipun kesalahan itu adalah bibit dari perbuatan kita, terkadang ego pun bisa mengalahkan kejujuran. Dua link yang saya berikan sebelumnya hanya secuil kecil. Secuil besarnya ? Setiap orang bisa melihatnya, entah di jalan raya, entah di posko siskamling, entah di depan rumah tetangga, entah di kantor, atau entah di hati sendiri.

Comment bebex : "Mantan junkie" itu ga salah 100%. Junk food dan junk lifestyle pernah saya terapkan, dan kadang-kadang pun masih pernah. Menikmati kesalahan yang dibuat sendiri. Dan, ngomong-ngomong soal junkie- dalam hal yang mengarah ke drugs/narkoba - saya punya pikiran lucu satu. Kenapa drugs begitu dilarang ? Alasan klise macam AIDS dan die-young agaknya terlalu dibuat-buat, meskipun technically benar adanya. Apa yang ditemukan dalam drugs ? Surga ? Sosialisasi insan yang kesepian ? Tata hidup baru ? Atau kurangnya pengetahuan ?

Anyway, mengesampingkan efek samping dari narkoba, ada baiknya saya telusuri - sesuai jalur pikiran saya - ke belakang sejenak mengapa seseorang sampai terjebak dalam jaring narkoba. Tidak jauh-jauh ternyata : kesepian dan kekurangan. Kurang pengetahuan soal narkoba. Kesepian akibat pressure, entah dari orang tua, lingkungan, atau pekerjaan. Untuk itulah, Surga sesaat mereka pakai. Begitu is-dead, tidak ada yang mau disalahkan. Ambillah contoh demikian : seorang anak memakai drugs dengan alasan coba-coba. Namun pada kenyataannya, orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai-sampai tak sempat memperhatikan anaknya barang secuil pun. Begitu anaknya "lewat", orang tuanya mulai menyalahkan narkoba dan bukan dirinya sendiri. Lucunya cerita ini.

Lalu, apa kaitannya dengan artikel pendidikan itu ? Rasanya bisa dibilang ga beda jauh. Entah kepala sekolah, guru, pembuat ujian, pembeber ujian, bahkan mungkin pemeriksa ujian yang disalahkan. Protes dimana-mana. Akhirnya keluar permintaan untuk ujian perbaikan. Konyol ? Mungkin. Sendiri yang salah malah minta dicover. Dan ada lagi yang lucu : meminta pertanggungjawaban kepala sekolah karena telah menjanjikan kelulusan sebelum ujian dilangsungkan. Lucunya kejadian ini.

Sedikit merespon kedua artikel tersebut, ada satu lagi pikiran terabsurd yang keluar : kenapa Indonesia ga jadi supplier narkoba ? Toh, sepertinya bakalan lebih makmur. Dan kalau tiba-tiba terjadi demikian, pintar-pintar saja jaga perasaan anda dan orang tersayang anda.

Jadi, ya, inti dari kebodohan tulisan hari ini : jagalah diri anda dan orang-orang yang anda sayangi. Salam timpang.

Thursday, June 22, 2006

Sudahkah anda timpang hari ini ?

Silahkan anda baca dua artikel ini :
Narkoba dan pendidikan.

Dunia yang indah. Bukan begitu ?

Komentar saya ? Belakangan deh. Kalau dari anda, bagaimana ?

Monday, June 19, 2006

Sudahkah anda merasa timpang hari ini ?

Cukup banyak perubahan yang terjadi akhir-akhir ini, yang meskipun tidak signifikan dan juga tidak pernah stagnan, tetapi efeknya sungguh - mari disebut - sangat menggelikan. Ketenangan muncul bersama ketidak-tenangan. Keteraturan hadir dalam kekacauan. Sebegitu absurdnya kah saya ? Pergaulan itu tidak seperti virus. Tapi cap-cap yang dikategorikan natural - demikianlah kenyataannya - selalu hadir setiap saat, yang tentu saja, tanpa ada penciptanya.

Katakanlah demikian. Saat saya sedang bergaul dengan kelompok yang memiliki pandangan yang "banting stir" bila dibandingkan dengan kelompok terdahulu, gosip semerbak hadir dimana-mana. Ho ho. Kritik yang pedas pun tak mau kalah dalam perlombaan ini. Tapi, cukup saya tulis satu kalimat : kacang tidak boleh lupa kulitnya. Saya lahir dari kelompok "banting stir" tadi. Apa salahnya saya kembali sekedar bernostalgi ? Satu kata lagi : apa yang kumiliki tak ada hubungannya denganmu. Pergaulan tidaklah menular saudara-saudara. Sia-sialah mempertahankan sesuatu yang bahkan bukan milikmu. Khayalan memang hanya mengajarkan kebodohan.

Persimpangan selalu ada. Dan bukan berarti persimpangan milikku sama dengan milikmu. Tetapi nasib selalu terpaut. Berdoa saja. Itu sudah lebih dari cukup.

Sekarang, saatnya untuk belajar . . . kembali.

PS :
For Nia : maap. Saya masih dikejar.

Wednesday, June 14, 2006

Sudahkah anda merasa timpang hari ini ?

Satu buah pikiran yang enggak tepat pada sasaran muncul lagi. Soal ketakutan tepatnya. Lazimnya, kita akan merasa takut terhadap segala sesuatu yang tampaknya merusak, menghancurkan, apalagi mengancam kehidupan kita. Kalau contohnya, yah, katakanlah macam senjata, racun dan kawan-kawannya, apalagi jika benda-benda itu berada di tangan pihak yang "tidak stabil". Tapi, apa benar kita takut terhadap itu ?

Yang kita takutkan justru lebih dari itu. Kita takut akan kebenaran. Segala sesuatu yang hadir dalam sebuah eksistensi bernama kenyataan, ditambah lagi jika kebenaran itu adalah sesuatu yang ditutupi, ditabukan, dilarang, oleh sebuah pola pikir yang menggeneralisir. Entah sejak kapan sistem seperti itu mulai muncul dalam untaian pikiran kita. Tapi, yang jelas, kita sudah menerima sistem rasisme terhadap kebenaran dan kepalsuan. Mencerca yang tampaknya jelek, namun menerima yang tampaknya bagus. Jika ditanya standarisasi yang dipakai, kita hanya bisa mengangkat bahu sambil mengatakan "Enggak tahu...". Gampang banget ya ?

Contoh kecil dari sistem ngeyel kali ini, katakanlah hasil ilusi dari Da Vinci Code. Ya ya ya. Meskipun pengarangnya sendiri mengatakan bahwa bukunya itu murni fiksi, yang bikin saya heran justru reaksi dari pihak Vatikan (CMIIW). Mengecam keras. FPI banget yak. Mengapa saya tulis demikian ? Seperti halnya bola yang memantul, semakin kita lempar dengan keras, pantulannya akan semakin menggila. Dan balik lagi. Kalaupun buku itu memang fiksi, ngapain juga ditentang ? Malah makin bikin laris. Saya pikir mereka bisa lebih bijaksana. Nyatanya sama saja. Enggak di luar, enggak di dalam. Ada saja pihak-pihak yang dengan gampangnya membongkar kelemahan mereka sendiri. Atau, jangan-jangan mereka takut sesuatu yang mereka sembunyikan rapat-rapat itu terbongkar ? Ah, simpan saja itu di sektor imajinasi.

Konsep pikiran kita masih saja enggak berubah dari zaman batu. Primitif. Dan hadirin, kitalah makhluk primitif itu. Nikmati sajalah. Gyahahahahahaha.......

Friday, June 02, 2006

Sudahkah anda merasa timpang hari ini ?

Untuk pertanyaan di atas, saya cukup tambahkan satu pertanyaan lagi : seberapa cerahkah anda hari ini ? Cerah ? Atau berawan ?

Cukup banyak buku yang saya baca hingga saat ini. Sebagian besar menyebutkan bahwa hati yang tak punya beban, akan mencerahkan hidup anda. Hati dengan cuaca yang mendung justru akan menyulitkan anda sendiri. Hal ini sedikit saya sadur dari buku tentang Zen: "Tidak mempunyai masalah dalam hati adalah berkah dalam hidup". Karena kebanyakan masalah itu berasal memang dari keegoisan kita sendiri.

Saya jadi berpikir satu hal. Kalau memang setiap orang tahu akan hal itu, lantas seberapa jujurkah cuaca yang mereka pampang dalam aktivitas mereka ? Kalau Dee menulis dalam buku Filosofi Kopi -nya: "Karena mendung tak pantas jadi pajangan" (CMIIW), terus terang, itu pun mungkin saja terjadi dalam kehidupan. Berpura-pura cerah, padahal sedang mendung. Justru karena kepura-puraan itu, seseorang yang awalnya sedang mengalami sedikit pergolakan, akan menjadi semakin susah sendiri. Sebegitu susahnya kah menjadi diri sendiri ? Mungkin .

Sekarang, jawablah kembali pertanyaan yang sama: seberapa cerahkah anda hari ini ?

Blog Archive

About Me

My Photo
Vendy
Mellow and complicated. Not rich, and that's why he's working. Not too friendly, but he can try to be. Not talkative, but he can try to be a good listener. Searching for great jobs and great lifetime partner. Trust in both God and Luci, but sometimes too straight. Kept him away from loneliness, ignorance, clowns, and marionettes. Fragile with pure-heart children, wise parents, b/w photos.
View my complete profile

Recent Comments