Sudahkah anda tim-pang hari ini ?

Monday, December 26, 2005

Pada suatu hari, hiduplah seorang lelaki yang suka mengeluh. Hampir segala hal ia keluhkan. Pekerjaannya, kehidupan sosialisasinya, keuangannya, bahkan keluarganya sendiri ia keluhkan. Sampai pada suatu hari, ia menderita suatu penyakit yang sebenarnya tidak terlalu berat. Matanya terasa gatal. Obat tetes mata tidak terlalu efektif. Dan ia juga tidak mau pergi ke dokter. "Tak ada dokter mata yang bagus" keluhnya.

Hingga akhirnya, gatal-gatal yang terasa di matanya semakin menjadi-jadi. Meskipun demikian, ia tetap ngotot tidak mau pergi ke dokter. Alhasil, satu rencana bodoh terlintas dalam benaknya. Ia berencana menusuk matanya sendiri dengan sebilah pisau. Dan sebelum itu terjadi, salah seorang saudaranya mencegah hal tersebut. "Kalau kau melakukannya, kau akan kehilangan hal yang jauh lebih besar".

[Disadur dari pepatah Cina kuno]
_____________________________________________________

Seringkali, kita terlalu mengeluhkan segala sesuatu yang buruk menimpa diri kita sendiri. Seolah-olah, kita adalah satu-satunya insan yang paling dibenci di seluruh dunia, sehingga kutukan terburuk datang menimpa diri kita. Sayangnya, pemikiran seperti itu terlalu self-oriented. Kenyataannya, di atas langit, masih ada langit. Jangan pernah berpikir hal yang terlalu negatif, apalagi membunuh diri perlahan-lahan. Hidup adalah anugrah terbesar. Dan kita memperolehnya melalui Yang Maha Kuasa.

Mungkin agak telat, tetapi Happy Belated Birthday God. Thanks for all the things You have given to all of us. And Merry Christmas, to all of you.

Friday, December 23, 2005

Kamis, 1 September 2005 :
Dear diary,
Entah apa kesalahanku hari ini. Tanpa ada tanda-tanda apapun, ia menuliskan di blog miliknya kalau ia sedang tidak menyukai seseorang. Meskipun ia tidak menuliskan siapa, aku merasa kalau akulah yang ia maksud...

Jumat, 2 September 2005 :
Dear diary,
Entah mengapa ia tidak muncul di YM hari ini. Apakah ia masih marah dengan diriku ? Jika ya, mengapa ia tidak mengatakannya langsung ? Aku sungguh tidak mengerti...

Sabtu, 3 September 2005 :
Dear diary,
Ia muncul di YM hari ini. Kusapa dirinya, namun hanya dibalasnya pendek. Kucoba untuk berbasa-basi sedikit, namun hasilnya tetap sama...

Minggu, 4 September 2005 :
Dear diary,
Acara makan bersama yang sudah direncanakan seminggu yang lalu tiba-tiba dibatalkan. Yah, acara mendadak keluarga. Aku tahu kalau kita semua punya urusan sendiri-sendiri. Tapi tetap saja aku merasa kalau acara ini dibatalkan karena ia tidak senang padaku.

Senin, 5 September 2005 :
Dear diary,
Aku tidak muncul di YM hari ini. Dan kurasa, mereka tidak akan khawatir sama sekali kalau aku tiba-tiba tidak ada. Toh, kalau kupikir-pikir, aku ini hanya sekedar pelengkap saja. Aku ada atau tidak, aku yakin tidak ada bedanya bagi mereka...

Selasa, 6 September 2005 :
Dear diary,
Di kantor tidak begitu banyak pekerjaan hari ini. Tapi, jujur saja, aku rindu mereka...

Rabu, 7 September 2005 :
Dear diary,
Penyakit jantungku kumat lagi. Kurasa besok aku harus izin untuk check up ke dokter...

Jumat, 9 September 2005 :
Dear diary,
Kubaca blognya hari ini, dan ya... kurasa ia benci padaku...


............................................................

Berita 11 September 2005
Telah ditemukan sesosok mayat lelaki di sebuah apartemen yang terletak di kawasan elit Jakarta Pusat. Menurut laporan polisi, belum jelas apakah penyebab kematiannya disebabkan oleh penyakit jantung yang diderita olehnya, ataukah karena upaya bunuh diri. Diceritakan bahwa mayat tersebut ditemukan dalam posisi duduk sambil tertidur di atas buku hariannya, yang berisi kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan yang dialami oleh korban. Kini kita beralih ke berita selanjutnya...


__________

Kata-kata bisa lebih kejam dari senjata... Dan prasangka, adalah pemicu utamanya...

Thanks too a friend of mine who wants to hear my cry out... thank you... I feel better now...

Monday, December 19, 2005

Pada suatu ketika, berseterulah dua orang kaya di sebuah pesta besar.

Orang kaya yang pertama berkata : "Akulah orang yang paling kaya di seluruh dunia ini. Tiga per empat dari dunia ini adalah milikku. Semua sektor industri dan teknologi informasi kukuasai. Penguasa dari negara manapun akan merasa segan bila berhadapan denganku.".

Orang kaya yang kedua tak mau kalah : "Akulah orang yang paling kaya di seluruh dunia ini. Di balik layar pemerintah negara manapun, akulah yang memegang kendali. Bahkan jika mau, aku pun bisa memusnahkan suatu negara hanya dengan satu perintah saja."

Dan sebelum keduanya mulai memanas, datanglah seorang tua. "Kalian berdua sama-sama kaya. Kalian berdua sama-sama berkuasa. Tak seorang pun yang berani menentang diri kalian. Tapi, di luar itu semua, apakah kalian berdua benar-benar bahagia dengan itu ?".

Mereka berdua pun terdiam seribu bahasa.

-----
[Thinking Section Start]

Saya sedikit teringat akan tokoh Ferre dari Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh. Diceritakan kalau Ferre dikategorikan sebagai manusia paling sempurna di mata orang manapun yang mengenalnya. Namun terkadang angan-angan tidak semanis gula. Di luar sosok sempurnanya itu, memori yang menyimpan perasaan pilu di sudut hatinya dan hampir tak tersentuh itu, menjadikan dirinya sebagai robot pekerja sempurna, yang tanpa hati. Si Gila Kerja. Tetapi salahkah itu ?

[Thinking Section End]
-----

Pada suatu hari, ada seorang Pangeran yang jatuh cinta pada seorang Putri yang tinggal di bulan. Sang Raja yang tahu akan hal itu, mengadakan sayembara bagi sang Pangeran supaya sang Pangeran bisa melupakan sang Putri dan bisa menemukan orang lain yang menjadi penggantinya. Akan tetapi, sayembara tersebut tidak membuahkan hasil. Justru perasaan sang Pangeran makin menggebu-gebu.

Sampai suatu ketika, datanglah sesosok siluman yang mengetahui hal ini. "Wahai pangeran." katanya, "Aku bisa mengantarkan dirimu menemui sang Putri.". "Sungguhkah ?", tanya sang Pangeran. Rasa terkejut campur bahagia membahana dalam diri sang Pangeran. Antara percaya dan tidak.

"Tapi ada syaratnya" lanjut sang Siluman. "Jika sang Putri memang jatuh cinta dengan dirimu, jangan lupa undang aku di pernikahan kalian. Tetapi jika sang Putri tidak jatuh cinta dengan dirimu, atau jika perasaan cinta itu lenyap seketika dari dirimu, saat itu jugalah dirimu akan musnah menjadi debu.". Sang Pangeran menyanggupi. Dan saat itu juga, sang Siluman mengantar sang Pangeran menemui sang Putri di bulan.

Namun hidup memang sulit diduga. Sesampainya sang Pangeran sampai di bulan, ia melihat sang Putri sedang bermesraan dengan seorang lelaki. Dan masing-masing dari mereka menggendong seorang anak kecil.

Seketika itu juga, tubuh sang Pangeran berubah menjadi debu yang bertebaran di angkasa. Dan akhirnya, debu-debu yang bertebaran itu berubah menjadi bintang yang menghiasi angkasa. Sang siluman yang melihat hal itu, hanya sanggup menghela nafas sambil kembali ke kediamannya.

-----
[Thinking Section Start]

Komputer super canggih sekalipun jika disusupi virus super canggih, akan melahirkan chaos di rahim order. Hati yang sedingin es pun mungkin bisa berubah menjadi hati yang memancarkan kehangatan. Dan kematian pun dapat menjemput saat tawa bahagia sedang melanda suasana. Pada saat-saat seperti itulah, ultimatum dari akherat muncul dalam bentuk koin dua sisi yang bertindak seperti undian. Dan hasilnya ? Fifty:fifty. Muka atau Ekor . . .

Robot super canggih pun tidak awet selamanya. Saat kode asing bernama cinta menyusupi memori, apa yang akan terjadi ? No one knows. F1 bahkan Google pun mungkin tidak akan berkutik . . .

[Thinking Section End]
-----

Pada suatu ketika, hiduplah monster raksasa di tengah hutan. Monster ini digerakkan oleh kristal hitam yang dinamakan "Anti-Kesepian". Meskipun tampak seram, monster ini melindungi segenap penghuni hutan. Keramahan yang hidup dalam monster tersebut jauh lebih menyenangkan dan memberi energi kehidupan bagi para penghuni hutan dan hutan itu sendiri.

Sampai pada suatu hari, seorang pemburu tidak sengaja merusak kristal hitam tersebut. Akibatnya sang Monster berhenti bergerak seketika. Tidak sampai disitu. Hutan beserta segala isinya pun mati seketika.

-----
[Thinking Section Start]

Inilah virus yang mematikan yang bernama kesepian. Namun, mungkin cukup menyenangkan untuk dijadikan seorang teman di kala kau sudah bosan dengan hidup . . .

Ironiskah kalau seseorang mengatakan "Aku akan hidup seribu tahun lagi." di kala kematian sedang membelai halus jantung kehidupannya ?

[Thinking Section End]
-----


Guys, mungkin gue harus biasain hidup tanpa elo-elo pada. Gue enggak mau nyalahin elo semua kalau emang keadaan enggak memungkinkan kita buat kumpul-kumpul sekedar ngobrol. Face to face. Biarlah gue yang bodoh ini belajar, biarpun sangat enggak menyenangkan kalau enggak ketemu kalian. You are the best guys.

Wednesday, December 14, 2005

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda kepada guru agamanya, yang konon adalah guru paling bijak di seluruh negerinya.


Pemuda : "Guru..."

Guru : "Ya ?"

Pemuda : "Bolehkah saya bertanya satu hal ?"

Guru : "Silahkan"

Pemuda : "Salahkah saya jika saya jatuh cinta . . . dengan seorang pelacur ?"
Guru : (dengan nada tinggi yang penuh kemarahan) "Itu adalah suatu kesalahan besar !!! Dosa besar !!! Kenapa kau bisa sampai jatuh cinta dengan manusia seperti itu ?!!!"

Pemuda : (menghela nafas)"Maukah mendengarkan cerita saya guru ?"

Guru : (masih cemberut)"Bicaralah !"

Pemuda : "Wanita itu adalah teman saya sejak kecil. Anak kedua dari lima bersaudara. Semenjak ayahnya meninggal, ia terpaksa berhenti sekolah. Saudara-saudaranya juga. Apalagi sejak ibunya sakit parah. Ia dan semua saudaranya terpaksa bekerja demi biaya pengobatan ibu mereka. Sampai mereka bertemu dengan seseorang yang menawarkan Ia dan saudara tertuanya bekerja di dunia hiburan malam. Pendapatan yang akan diperoleh cukup untuk biaya pengobatan ibu mereka."

Guru : ". . ."

Pemuda : "Pada awalnya, tidak ada satupun anggota keluarga yang menyetujui hal tersebut... termasuk saya. Namun, apa daya, saat itu tak ada seorang pun yang mampu membantu mereka. Akhirnya jalan tersebut pun ditempuh."

Guru : ". . ."

Pemuda : "Namun, bermain air basah, bermain api terbakar. Mereka berdua sudah terlanjur tenggelam dalam dunia itu. Ia menjadi seorang pelacur, sementara kakak tertuanya menjadi seorang gigolo. Meskipun demikian, ibunya sembuh total, dan adik-adiknya bisa sekolah kembali."

Guru : ". . ."

Pemuda : "Pernah suatu ketika saya bertanya kepada dirinya mengenai pekerjaannya. Apakah ia menyesal atau tidak ? Ia hanya tersenyum dan menjawab, 'Cukup aku dan kakakku yang menanggungnya. Asalkan semua bahagia, aku tidak akan pernah menyesal'."

Guru : ". . ."

Pemuda : "Sejak saat itulah, saya mencintai dirinya sepenuh hati. Dan saya yakin, saya akan bisa membahagiakan dirinya. Saya sudah lebih dari mampu untuk itu. Hanya saja, kedua orang tua memaksa saya untuk berdiskusi dengan anda guru. Jadi, saya turuti keinginan mereka berdua."

Guru : ". . ."

Pemuda : "Guru ?"

Guru : ". . ."


Dengan muka tertunduk, sang guru berdiri, lalu pergi dengan terburu-buru, meninggalkan sang pemuda dalam pertanyaan.



Mungkin inilah gambaran kehidupan orang pada umumnya. Satu sisi sudah cukup menjadi absolutisme, sementara sisi lainnya dicap sebagai kebalikan dari segalanya. Apakah anda juga demikian ?

Thursday, December 08, 2005

Di antara sesi buang air besar yang terkategorikan lancar tanpa ada kemacetan akibat carut marut sembelit, sekelibat kalimat trademark William Shakespeare muncul : To be or not to be - menjadi atau tidak. Benar. Itulah yang kita lakukan setiap hari. Menjadikan atau tidak. Tentu saja dalam melakukan sesuatu, ada kalanya kita berhenti di antara perbatasan keduanya. Membuat keputusan seolah-olah kesalahan merupakan kiamat personal tanpa campur tangan Yang Kuasa, sementara kebenaran menjadi siraman air Surga di kala dahaga menyerang.

Saat membaca revolusihidup.blogspot.com, saya merasakan aliran humoris keluar dari layar monitor, membuat cekikikan dan tawa tertahan keluar di sela-sela jam istirahat kantor. Beruntung sendawa dan kentut tidak ikut-ikutan ambil peran. Saya merasa salut dengan si penulis, bisa membuat karya yang sejujur itu [meskipun mungkin bagi beberapa orang, tulisan tersebut justru mengundang aliran kemarahan, entah karena tepat pada sasaran atau fanatisme hidup mengambil alih emosi].

Terkadang kita akan merasa geli sendiri jika melihat sistem lama ditimpali oleh sistem baru, seolah-olah melihat pisang raja berubah menjadi pisang coklat [padahal sama-sama pisang]. Saya masih teringat dengan beberapa patah kalimat yang dicekoki oleh guru-guru pelajaran PPKn [atau ex-PMP] - yang mana, jujur saya katakan - paling tidak saya senangi [namun apa daya, tetap saja harus lulus - terima kasih kepada yang membuat aturan tersebut karena anda hanya membuat hitam tetap hitam]. "Manusia adalah makhluk sosial", "Manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain", blablabla. Sisanya telah terlupakan begitu saja, hanyut dan larut dalam alunan guyonan "Hare gene masih belajar PPKn ???" - persis seperti kentut yang keluar tanpa bunyi dan bau. Yang penting exist.

Yakinkah kalau ilmu yang kita peroleh dalam bangku pendidikan - khususnya di sekolah - itu benar 100% ? Saya justru ragu kalau 100%. Mengesampingkan ketidaksenangan saya terhadap cuap-cuap sistem dari PPKn dan ratusan kerajaan plus tanggal-tanggal penting yang hadir dalam Sejarah, pengalaman justru membenarkan keraguan saya. Buku tidak mengajarkan bagaimana cara mencari uang yang benar di kala perut sedang kelaparan. Buku tidak memperlihatkan bagaimana kesenjangan dan diskriminasi berevolusi. Buku tidak membicarakan kenyataan di kala kelicikan menggunakan bayang-bayang kebenaran untuk hidup. Karena buku adalah media. Justru pengalaman yang membuat hidup ini bergerak apa adanya. Benar atau salah hanya merupakan suatu bentuk perbedaan persepsi akan pengalaman.

Cepat atau lambat, semua yang ada di dunia ini akan mengikuti arus perubahan. Entah sistem, entah aturan, entah cara hidup, dan mungkin juga masalah yang paling sensitif seperti religi. Pada akhirnya, sistem pun akan tertimpali oleh sistem yang baru. Seperti kentut yang ditimpali maha-kentut. Ini juga pilihan yang dibuat oleh manusia. Kurang kerjaan menimbulkan kerjaan baru.

Kembali kepada mbak penulis revolusihidup. Saya pikir semua manusia sama saja. Sebagian besar merupakan korban dari sistem yang hidup, atau lebih tepatnya, dihidupkan. Hanya sebagian kecil [sekali] yang sanggup bertahan sambil menggunakan esensi murni yang hidup dalam dirinya - jujur+tanpa paksaan. Mari kita selangkah masuk ke dalam sistem yang dialami korban. Setiap arsip kehidupan dan kejadian yang saya dengar, saya lihat, dan saya rasakan sendiri, selalu saya hubungkan dengan 7 dosa terbesar, atau kerennya, 7 Deadly Sins :
- Gluttony, berhubungan dengan laper enggak kira-kira - si tukang makan
- Lust, berhubungan dengan libido-libido
- Envy, kerennya sirik
- Greed, format dari maruk luar biasa
- Wrath, alias tukang ngamuk
- Sloth, diartikan supernya super pemalas
- Pride . . . mungkin lebih ke arah keangkuhan

Ada baiknya setiap tindakan disaring melalui ketujuh tipe sifat tersebut. Mungkin para "pemuka agama" menyebutnya mawas diri. Tapi, apakah istilah itu masih berlaku sekarang ini ? Lihatlah keluar, dan saksikan sendiri, betapa tidak berdayanya mawas diri itu sekarang. Dan kini, maukah anda mengikuti jalur menjadi korban, ataukah kembali kepada konsep mawas diri ? To be or not to be . . .

Blog Archive

About Me

My Photo
Vendy
Mellow and complicated. Not rich, and that's why he's working. Not too friendly, but he can try to be. Not talkative, but he can try to be a good listener. Searching for great jobs and great lifetime partner. Trust in both God and Luci, but sometimes too straight. Kept him away from loneliness, ignorance, clowns, and marionettes. Fragile with pure-heart children, wise parents, b/w photos.
View my complete profile

Recent Comments