Terkadang, orang yang tidak bisa mengekspresikan dirinya, bisa terbelenggu dalam dunianya sendiri. Terlebih lagi kalau orang yang sudah dikategorikan [atau setidaknya merasa] sebagai super melankolis sejati, pasti akan mudah sekali terseret ke dalam dunia yang dirasa aman dan tidur didalamnya. Dan aku enggak akan heran kalau mereka tiba-tiba jadi gila atau terlebih-lebih menjadi autis. Sekarang, aku hanya bisa setengah jujur dalam satu hal ini : perasaan. Aku orangnya enggak ekspresif2 amat, tapi aku kepengen bisa ekspresif. Terlebih lagi, sekarang rasanya agak "kosong". Siapa bilang orang yang udah kerja bakalan lebih hepi ? Malah aku lihat kalau mereka yang bisa menikmati segala sesuatu bisa jauh lebih hepi, meskipun mereka enggak kerja. Kuputar lagu Peter Pan - Di Belakang. Aku merasa, ini sudah kejadian. Bayang-bayang pekat sudah menempel ketat di mata. Kutekan J di winamp, lalu kuketik Niji [L'arc] dan enter. Entah bagaimana, nadanya membuat diriku ini terseret jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh sekali dalam "sesuatu". Sekali lagi, aku enggak tahu apa "sesuatu" ini. Yang jelas, penyebabnya itu sudah ketahuan . . . seorang teman yang "spesial". Ini dikategorikan masalah ? Buatku ya. Sebenernya, aku pengen bilang sama dia kalau dia adalah masalahku. Dia itu yang membuatku terbelenggu, pusing dan bingung selama ini. Tapi, enggak mungkin aku langsung bicara blak-blakan seperti itu langsung di hadapan dia. Apa ini ... cinta ? Sekali lagi, aku katakan, aku tidak tahu. [MODE BINGUNG ON].
Trapped in this body does make my soul defect. Total numbness in this hollow expansion does make my feelings broken. Sometimes I wonder, why You put me in this everlasting asylum. Ashuras are eating each other in order to satisfy their own hunger. But, now I comprehend, that humans have to stand on their own feet. That's why, Nirvana is exist everytime I open my eyes. Even deva can share their love to us. I never think that life can be so amusing. Song, for example. Sometimes, a song can be the best cure ever in this hellish dump. But sometimes, a song can kill your inner-self softly. A strong panacea and a strong venom in one grail. Two different syndrome under one complicated nerve system. Though it is the law of nature, we humans, are always choose white, and do not want to see things from the eye of the dark. However, memories are the only thing that make me survive untill this day. Even if some cells have gone from the core in my brain, I always keep some of my past in my secret labyrinth. These memories are lovely but mysterious [I want to say Outstanding, but still...]. They come to me in different way. One day, they come to me with the most beautiful colours in this dimension. But, on the other day, they come to me with bloody sun in the night. Even so, cheers for all my memories. When I look into the mirror, I always think that I might have someone who can fully understand me : my other side in the mirror world. Sensible, doesn't it ? Well, to tell the truth, I always imagine that somewhere in this world, there will always be living spirit like Digimon or Pokemon, or even Persona [Shin Megami Tensei]. Call me crazy or something like that, but, don't you think it is cool if we can enter the phase of evolution just like that ? I'll answer Y.E.S. ... Well, I think this 'HALLUCINATION SESSION' is enough, at least for today.
Well, setelah baca-baca tulisan Endoch yang baru diupdate [setelah 1 bulan vakum untuk urusan pribadinya], aku mulai semangat untuk nulis kembali. Bukannya aku pengen jadi plagiat atau jiplak karya orang, tetapi justru karena aku ini orangnya gampang terpengaruh sama situasi dan kondisi serta mood yang naik turun seperti ombak. Harus kuakui kalau tulisan Endoch itu ada benernya juga. Selama masih ada waktu, carilah sesuatu yang bisa bikin diri lu sendiri enjoy. But, agaknya itu ga bisa berlaku 100% buatku. Aku masih sering mikir kalo segala sesuatunya butuh uang. Memang tidak segalanya tidak bisa dibeli dengan uang. Aku setuju dengan konsep itu. Tapi, dalam melakukan kegiatan sehari-hari, kita tetap butuh uang. Itu satu hal yang mungkin sulit dipungkiri dalam kalangan masyarakat yang modern [baca : rada modern dan setengah berlagak modern]. Sesekali saja, aku ingin bisa menjadi si Produktif pencari duit dalam keluarga. [Mengingat berapa porsi nasi yang kumakan sejak masih ngedot sampai semester 7 kemarin]. So, bagi kalian-kalian yang merasa engga ngeh atau merasa risih saat terakhir kali bertemu [baca : keliatan lagi BT atau sejenisnya], itulah tampangku setelah memasuki masa-masa percobaan kerja [beberapa orang bilang kalau aku kena stress]. Memang sulit membiasakan diri di tempat yang penuh tuntutan, aturan dan kebutuhan, di mana waktu itu jadi kayak bom waktu yang bisa duerr!!! bluor!!! juederrr!!! blam!!! buffff!!! sewaktu-waktu. Jadi, sorry . . . harap dimaklumi. Even so, aku tetap pengen santai juga [baca : jadi orang maruk]. Kelewat stress ga baik buat tubuh, terbukti dengan aktifnya asam lambung akhir-akhir ini, yang bikin cepat lapar. Kelewat santai, juga enggak baik...terbukti dengan naik berat badan [...ARGH!!!]. Akibatnya, semua dicatet dalam daftar yang harus dipertimbangkan otak, dan akhirnya - sudah bisa ditebak. Pikiran enggak ada bedanya sama gado-gado. Semua jadi satu. Saking kecampurnya, semua itu membawa diriku bermimpi ke tahap menjadi orang yang tidak berpikir sama sekali. Though, bukannya aku mau bilang kalo temen-temenku yang belom mau kerja itu males. Justru mau kubilang kalau mereka jauh lebih merdeka ketimbang diriku yang sekarang ini, karena mereka bisa melakukan apa yang mereka suka. Mungkin ini yang namanya jalur hidup orang dewasa [catatan : orang gede] yang sering dibilang sebagai dunia yang kejam [catatan : di sebelah gue sekarang ada supervisor yang sering ngelawak, dan gue ikut ketawa]. Pada dasarnya, aku sering merasa kalau orang gede itu enggak ada bedanya sama anak-anak. Tokh, yang bikin beda itu cuma orang gede bisa nyari duit dan mikirnya udah kelewat banyak. And also, aku ga mau bilang kalo temen-temenku yang udah pada kerja itu terlalu cepet. Sama halnya kaya gue sekarang, yang mungkin dah punya pikiran untuk suatu hal, dimana sesuatu itu membutuhkan uang, dan rembetan terakhirnya, ya kerja [yah, salah satunya ya gue]. Atau bisa jadi, mereka kepengen melakukan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya, dan terpikirlah soal bekerja itu. Yang manapun yang mereka pikirkan, itu tidak jadi masalah koq. Asalkan mereka punya niat untuk menjalankan itu. Walau badai menghadang... [catatan : bukan bermaksud untuk nyanyi atau bersenandung] This is something to be remembered, kalau-kalau nanti kita sudah punya cucu [atau mungkin cicit], kita bisa bercerita kepada mereka seperti apa hidup di zaman se-"komplex" ini. Dan mungkin juga, nanti kalau kita semua sudah ubanan, pitak, gundul, keriput, kita semua bisa kumpul sambil bernostalgia dibarengi ketawa. Tapi, mari kita tunda pikiran semacam itu. Sekarang ini, kita hanya perlu melihat ke depan, menghantam badai, menerjang arus samudra, menuju pantai tujuan hidup. Semoga kita semua bisa melaluinya. Finally, sebagai penutup, aku pengen ngomong kalau tulisanku ini bisa dibilang sebagai hasil pengembaraan di dunia kerja selama kurang lebih 1,5 bulan... Berubah ? Kurasa tidak. Karena aku masih seperti yang dulu ... [catatan : tidak bermaksud untuk nyanyi]. Yah, sekiranya karma tetap berjalan dengan tenang, sambil mengendap-endap di belakang diri kita masing-masing sambil berkata "Waktumu masih panjang mas. Gunakan dengan baik." Kuharap, kita semua selalu bahagia.
Alicia Key ... Butterfly
Lately when I look into your eyes, I realize, Your the only one I need in my life. Baby I just don't know how to describe How lovely you make me feel inside.
-Chorus- You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I can't control the Butterfly. You give me Butterfly Got me flying so high in the sky I can't control the butterfly.
-Verse2- It seemed like the likely thing. From the start you told me - I would be your Queen. But never had I imagined such a feeling, Joy is what you bring, I want to give you everything.
-Chorus- You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I can't control the Butterfly. You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I can't control these Butterfly.
-Middle8- You and I are destiny. I know that you were made for me.
-Link- Ohh oOo... I can't control it. It's driving me.. Taking over me and I.. Ohhh..
-Chorus- You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I can't control the Butterfly. You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I cant control the Butterfly.
You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I can't control, I can't control it. You give me Butterfly, Got me flying so high in the sky I can't control the Butterfly.
Oo..Oo..No Oh..No.
(With Chorus in the background) You give me something I just can't deny. Something thats so real. I just can't control the way I feel. x2
Ohh I've never Felt like this.
...sigh... I'm a little bit tired. Am I supposed to seal myself in the mirror world ? Am I supposed to sleep forever in this deep blue sea ? Am I supposed to be ... alone ? ... Well... I guess, yes...

Tampaknya, memori di kepalaku sudah mulai aus. Terbukti dengan adanya fakta bahwa sekarang diriku ini sedang terjebak kiamat personal, dimana data-data masa lampau mendatangi diriku satu per satu, detik demi detik, frame by frame. Bisa jadi aku terjebak autisme dini akibat egoisme jiwa yang mulai mengarah ke dunia indigo. Bisa jadi aku terlalu banyak membaca buku dan menerima input terlalu banyak [dan akibatnya, isi kepalaku sekarang ini, benar2 semrawut]. Beberapa hari yang lalu, aku memakai status "I hope that God will slap me someday..." berhubung kepala ini butuh scan. Dan Tuhan pun melakukannya. Entah bagaimana, aku hanya merasa yakin kalau aku telah menerima hantaman dari langit... aneh kan ? Rasanya aku mulai bisa memainkan peran sebagai orang gila, kemudian memenangkan Movie Award sebagai Best "Or-Gil" Award. Aku ingat, beberapa hari lalu RDT meng-update blognya. Kubaca-kubaca-kubaca... semuanya mengarah ke satu momen istimewa, yang lebih sering kusebut sebagai masa. Aku pun pernah mengalami momen-momen yang serupa tapi tak sama. Tapi, semuanya itu tersimpan dalam satu sektor tersendiri, terkunci, hidden, diprotect dengan password, dan akan kubawa sampai saatnya tiba. Sekarang ini, aku mencari buku yang sudah diterbitkan agak lama, kalo ga salah judulnya Dunia di balik cermin - cerita tentang anak autis, lagi. Jujur saja, aku sempat merasa iri dengan mereka yang mengalami bentuk kehidupan seperti itu... suatu dunia dimana hanya mereka yang memiliki kunci tertentu yang bisa memasukinya. Kuhapus list winamp, kuambil daftar lagu L'arc : Smile, kemudian kutekan J dan Kuchizuke, kemudian enter. My world of melted colours . . . Lead me, into a dream Now, that gleaming flame leads you to hold it in your heart
Masih kurang puas, kuambil 2 lagu terbaik sepanjang hidup Madonna-[This used to be] dan Duran-Duran-[Come Undone]. Shit... masih kurang puas... aku menyerah... Wasit dari langit sudah membunyikan bel. Teng-teng-teng. KO TELAK MUTLAK. Bulan-bulan belakangan ini, rasanya hidup mulai memasuki kondisi goyah. Labil. Sebetulnya aku tahu betul apa yang aku butuhkan, hanya saja [baca : jujur, suer, sumpah] aku merasa ogah untuk mengutarakannya... kalau perlu, itu adalah hal terakhir yang akan kulakukan... Katakanlah benar kalau aku sedang menderita autisme akut untuk manusia berumur 20 tahun ke atas. Katakanlah benar kalau aku terjebak dalam kiamat personal. Lalu apa ? . . . Jujur, sumpah, suer... aku tidak tahu...

 Bisa dibilang, ini adalah satu huruf yang mewakili "All of me". Masuk ke area dimana tidak seorang pun yang bisa mengerti, kecuali mereka yang pernah mengikuti jejak petualangan hidup seperti yang kualami. Terkadang, aku berpikir kalau menjadi orang yang melankolis tidaklah seburuk yang dibayangkan oleh sebagian besar penghuni dunia ini. Sama halnya menikmati coklat saat sedang merenung di dalam ruang yang gelap, dan hanya ditemani oleh lagu-lagu nostalgia. Tapi, rasanya tidak akan sempat. Nampaknya aku dibimbing ke arah manajemen waktu dan pribadi oleh Tangan Besar yang Invinsible dan Invincible. Petunjuk dan petuah turun bak pertanda dari langit setiap hari, mulai dari kucing berguling2, bahkan sampai dempet2an naik P27 buat pulang ke rumah. Dan setiap hari, semua itu konstan. Yang berbeda, hanyalah kenyataan bahwa hari ini tidak sama dengan hari kemarin. Aku cuma bisa berharap kalau-kalau aku berpikir secara sembarangan, Tangan itu siap untuk menamparku dengan segera, supaya semuanya kembali normal. Lucunya, akhir-akhir ini aku lebih sering memasuki forum dimana segalanya bebas untuk ditumpahkan. [Wow]. Disana, aku merasa bisa jujur, jauh lebih jujur dalam mengungkapkan segala harta benda dalam sel otakku, lepas dari segala formalitas dan kesopanan yang diterapkan dalam forum terdahulu. Meskipun demikian, aku merasa terlalu dini untuk melepaskan insting hewan dalam kerangkeng pribadi bernama rohani. Dan sekali lagi, tampaknya Tangan itu telah mempersiapkan segalanya sejak awal. Kecolongan lagi... but, it's okay. Nampaknya, manusia kecil dalam kepalaku sedang terkena penyakit [Kehilangan Inspirasi]. Detik-detik saat langit siap mengucurkan dana lokalisasi bagi manusia, detik itu jugalah shock dari inner-self muncul... seolah-olah ketidakcocokan merajalela. Kupikir, ini efek samping yang muncul secara tidak sengaja akibat rasa enggan, atau... ah keparat... asumsi lagi... Kapan parasit ini pergi ? Mungkin kalau Tuhan jadi dokter, sudah pasti aku jadi langganannya. Akhirnya, seolah mendapat kartu pos dari Surga langsung dikirim oleh Tuhan sendiri, aku memutuskan untuk menjadi melankolis, menikmati lagu, menikmati pengalaman hidup orang lain melalui buku, menikmati bermain, menikmati membaca, dan yang terpenting, menikmati hidup itu sendiri. Transformasi menjadi pasien balita yang tidak berpikir apa-apa dan hanya berusaha menikmati. Edan nian. Tampaknya tingkat kepekaan mulai merajam setiap keputusan yang akan kuambil kelak. Untuk sementara ini, seperti lagu mbak Rika Roeslan... Biar Kunikmati...
|