Topik special : hasil pembacaan dari buku Emotional Intelligence punya Endoch, sejauh ini…diperuntukkan bagi Endoch (selaku orang yang masih terus mempelajari kehidupan), Duf (the warrior – sang pejuang) dan Aprida (yang sedang bergumul dengan permasalahan kehidupan, apalagi pernah baca Supernova juga ^_^).
Hmmm… Setelah postingan gua yang terakhir, kayanya hasil perembugan itu sendiri berakar dari suatu kebudayaan dalam kehidupan kita, yang sadar ga sadar bisa mempengaruhi kehidupan kita seluruhnya… Ga percaya? Oke, kita bahas satu per satu.
Dimulai dari kehidupan pas kita masih bayi. (Baca : masih bayi). Memang, kalo masih bayi, pastinya perlu perhatian yang cukup banyak dari orang tuanya. Tapi, kalau ga dapet perhatian, efeknya, ya anak tersebut bisa ga sukses dalam pergaulan, termasuk juga pergaulan waktu masih di TK. Buset, bayangin. Di TK aja udah ga sukses, gimana kedepannya? Masih kurang bukti? Perhatiin anak-anak pra-TK aja. Ketauan koq, beda anak yang dapat perhatian dari orang tua sejak bayi ama yang nggak. Tambahan lagi, dari history orang-orang yang ga sukses dalam kehidupannya, ternyata kehidupan masa kecilnya juga ga bahagia. Serem? Belum, masih ada yang lebih serem lagi.
Lanjut…
Nah, sekarang masa-masa pas masih di bawah umur kira-kira 10 tahun. Kebanyakan, kita pasti bergaulnya ama semua anak co ama ce. Itu mah wajar. Tetapi, sadar ga sadar, pelan-pelan, anak yang co kebanyakan bergaul ama anak co lainnya. Yang ce juga begitu. Terlebih lagi, orang tua lebih sering tegas ama anak co soal sifat yang cengeng, penakut, blah-blah-blah. Sementara yang ce, lebih sering diajak ngomong. Apa mungkin ini kodratnya ? Kalau dipikir-pikir, mungkin biar co bisa jadi orang yang tegar, n ce bisa jadi penyabar. (Jadi ingat salah satu kesimpulan dalam Alkitab di Kejadian : co itu harus kerja banting tulang buat keluarga, en ce harus berasa sakit pas ngelahirin anak).. Ga percaya? Coba inget-inget lagi waktu u masih berpetualang sebagai anak yang hampir menginjak usia dewasa. Satu lagi. Di usia ini paling rentan untuk kehidupan di masa depan. Kenapa? Karena, dibutuhkan seseorang yang bisa dijadikan panutan dalam hidup. Aneh? Nggak. Justru itu hal yang wajar. Karena, mereka bisa jadi lebih hidup dengan adanya tokoh panutan tersebut. Eits, jangan lupa juga peranan orang tua, karena sangat vital sekali.
Di sini mulai timbul masalah…
Kalau tokoh panutannya itu punya sifat yang baek, dan dicoba ditiru yang baeknya, ga masalah. Tapi, kalo nirunya ekstrem, atau terlalu gila banget ama tokoh panutannya sampai ga rela kalau tokoh panutannya diledek, bahaya mulai datang. Yang parah mah, kalau tokoh panutannya kaya Hannibal, Hitler, atau – nggak usah jauh-jauh deh – Sumarto. Kalau orang tuanya ga perhatiin dengan cara yang bener, logic bomb mulai aktif.
Kalau pas usia remaja, ini titik penentuannya. Bisa jadi ini titik start dari kehidupan yang real. Tapi, gw ga bakalan bahas soal ini…
(IKLAN LEWAT : ADA BREAK, ADA KIT-KAT)
Yang gw pengen bahas di sini adalah – kembali berhubungan dengan masalah emosi – cara mengatasi emosi negatif. Kenapa ? Siap untuk membaca yang satu ini ?
Pertama : Emosi negatif, kaya pas lagi keki, bisa memperpendek umur. Sadar ga sadar, pas kita lagi marah, detak jantung bertambah cepat, aliran darah meningkat pesat, akibatnya, residu seperti lemak, bisa ketinggalan kereta, dan nyangkut di pembuluh darah. Ini dasar dari penyebab stroke…
Kedua : emosi yang tersimpan di hati. Percaya ga percaya, orang yang bisa keluarin unek-uneknya, meski cuma lewat tulisan yang ga bakalan dibaca ama orang lain, punya harapan hidup yang lebih lama. Ga percaya? Coba aja perhatiin orang yang lebih suka nyimpen sakit hati ketimbang orang yang lansung ngomong kalau ga suka. Harapan hidup yang lebih tinggi pasti orang yang langsung ngomong. (Waks, g mesti waspada nih *_*).
Ketiga : Kenangan pahit masa lampau (koq jadi kaya sastrawan yah ?) Lho koq? Apa hubungannya? Mau tes? Coba mikirin sesuatu yang pernah bikin u marah banget di masa lalu. Tekanan darah u bakalan langsung meningkat, dan u ga bakalan sadar akan hal itu.
Keempat : Stress. Kalau yang ini, g ga punya solusinya. Kenapa ? Masalah u cuma u sendiri yang tahu persis seluk beluknya. Orang lain cuma bisa kasih sumbangan ide. Kenapa dengan stress ? Efeknya seperti yang nomor satu tadi. Memperpendek umur.
Kelima : amarah akibat amarah. Secara tidak langsung, pas kita lagi marah, begitu ditoel ama hal yang bisa bikin keki dikit aja, nongol lagi amarah yang lain. Akibatnya, amarah+amarah = 2amarah. Efek sampingnya? Kaya yang nomor satu tadi. Umur jadi singkat…
…ternyata, masalah manusia jauh lebih rumit dari perkiraan sebelumnya. Kenapa ? Mau jadi manusia yang cerdas secara emosi, harus pandai membaca manusia yang lain. Punya kelebihan akan membaca sesuatu dari orang tersebut, plus kemampuan untuk berempati – merasakan yang dirasakan orang lain. Ini kemampuan yang bisa dimiliki, bahkan sejak kecil, tergantung dari perhatian orang tuanya (nah loh. Serem ga tuh?). Tetapi, kebanyakan orang, termasuk salah satunya g, susah membaca perasaan orang lain. Kenapa ? Pendidikan plus perhatian dari orang tua, secara tidak sengaja, memberikan signal semacam itu. Seremnya, apa yang kita terima sejak kecil, bisa jadi konstanta dalam kehidupan kita – sesuatu yang sifatnya statis dan sangat sulit untuk diubah. (Gubrak, gimana nih ?). Contoh singkat : kalau pas masih anak-anak,sering dimaki-maki “tolol”, “bego”, de-el-el, de-es-te,… efeknya…ternyata menyeramkan…karena anak kaya gitu, bakalan tumbuh dewasa dengan kecerdasan emosi yang bisa dibilang parah – singkatnya, sulit punya ketrampilan emosi yang oke…
Nah bingung kan ? Sekarang baru tiga per lima buku pinjeman ini habis. Sisanya akan dilanjutkan di blogger berikutnya. See you…
Sudahkah anda tim-pang hari ini ?