Sudahkah anda tim-pang hari ini ?

Monday, May 17, 2004

Topik special : hasil pembacaan dari buku Emotional Intelligence punya Endoch, sejauh ini…diperuntukkan bagi Endoch (selaku orang yang masih terus mempelajari kehidupan), Duf (the warrior – sang pejuang) dan Aprida (yang sedang bergumul dengan permasalahan kehidupan, apalagi pernah baca Supernova juga ^_^).

Hmmm… Setelah postingan gua yang terakhir, kayanya hasil perembugan itu sendiri berakar dari suatu kebudayaan dalam kehidupan kita, yang sadar ga sadar bisa mempengaruhi kehidupan kita seluruhnya… Ga percaya? Oke, kita bahas satu per satu.

Dimulai dari kehidupan pas kita masih bayi. (Baca : masih bayi). Memang, kalo masih bayi, pastinya perlu perhatian yang cukup banyak dari orang tuanya. Tapi, kalau ga dapet perhatian, efeknya, ya anak tersebut bisa ga sukses dalam pergaulan, termasuk juga pergaulan waktu masih di TK. Buset, bayangin. Di TK aja udah ga sukses, gimana kedepannya? Masih kurang bukti? Perhatiin anak-anak pra-TK aja. Ketauan koq, beda anak yang dapat perhatian dari orang tua sejak bayi ama yang nggak. Tambahan lagi, dari history orang-orang yang ga sukses dalam kehidupannya, ternyata kehidupan masa kecilnya juga ga bahagia. Serem? Belum, masih ada yang lebih serem lagi.
Lanjut…
Nah, sekarang masa-masa pas masih di bawah umur kira-kira 10 tahun. Kebanyakan, kita pasti bergaulnya ama semua anak co ama ce. Itu mah wajar. Tetapi, sadar ga sadar, pelan-pelan, anak yang co kebanyakan bergaul ama anak co lainnya. Yang ce juga begitu. Terlebih lagi, orang tua lebih sering tegas ama anak co soal sifat yang cengeng, penakut, blah-blah-blah. Sementara yang ce, lebih sering diajak ngomong. Apa mungkin ini kodratnya ? Kalau dipikir-pikir, mungkin biar co bisa jadi orang yang tegar, n ce bisa jadi penyabar. (Jadi ingat salah satu kesimpulan dalam Alkitab di Kejadian : co itu harus kerja banting tulang buat keluarga, en ce harus berasa sakit pas ngelahirin anak).. Ga percaya? Coba inget-inget lagi waktu u masih berpetualang sebagai anak yang hampir menginjak usia dewasa. Satu lagi. Di usia ini paling rentan untuk kehidupan di masa depan. Kenapa? Karena, dibutuhkan seseorang yang bisa dijadikan panutan dalam hidup. Aneh? Nggak. Justru itu hal yang wajar. Karena, mereka bisa jadi lebih hidup dengan adanya tokoh panutan tersebut. Eits, jangan lupa juga peranan orang tua, karena sangat vital sekali.
Di sini mulai timbul masalah…
Kalau tokoh panutannya itu punya sifat yang baek, dan dicoba ditiru yang baeknya, ga masalah. Tapi, kalo nirunya ekstrem, atau terlalu gila banget ama tokoh panutannya sampai ga rela kalau tokoh panutannya diledek, bahaya mulai datang. Yang parah mah, kalau tokoh panutannya kaya Hannibal, Hitler, atau – nggak usah jauh-jauh deh – Sumarto. Kalau orang tuanya ga perhatiin dengan cara yang bener, logic bomb mulai aktif.
Kalau pas usia remaja, ini titik penentuannya. Bisa jadi ini titik start dari kehidupan yang real. Tapi, gw ga bakalan bahas soal ini…

(IKLAN LEWAT : ADA BREAK, ADA KIT-KAT)

Yang gw pengen bahas di sini adalah – kembali berhubungan dengan masalah emosi – cara mengatasi emosi negatif. Kenapa ? Siap untuk membaca yang satu ini ?

Pertama : Emosi negatif, kaya pas lagi keki, bisa memperpendek umur. Sadar ga sadar, pas kita lagi marah, detak jantung bertambah cepat, aliran darah meningkat pesat, akibatnya, residu seperti lemak, bisa ketinggalan kereta, dan nyangkut di pembuluh darah. Ini dasar dari penyebab stroke…

Kedua : emosi yang tersimpan di hati. Percaya ga percaya, orang yang bisa keluarin unek-uneknya, meski cuma lewat tulisan yang ga bakalan dibaca ama orang lain, punya harapan hidup yang lebih lama. Ga percaya? Coba aja perhatiin orang yang lebih suka nyimpen sakit hati ketimbang orang yang lansung ngomong kalau ga suka. Harapan hidup yang lebih tinggi pasti orang yang langsung ngomong. (Waks, g mesti waspada nih *_*).

Ketiga : Kenangan pahit masa lampau (koq jadi kaya sastrawan yah ?) Lho koq? Apa hubungannya? Mau tes? Coba mikirin sesuatu yang pernah bikin u marah banget di masa lalu. Tekanan darah u bakalan langsung meningkat, dan u ga bakalan sadar akan hal itu.

Keempat : Stress. Kalau yang ini, g ga punya solusinya. Kenapa ? Masalah u cuma u sendiri yang tahu persis seluk beluknya. Orang lain cuma bisa kasih sumbangan ide. Kenapa dengan stress ? Efeknya seperti yang nomor satu tadi. Memperpendek umur.

Kelima : amarah akibat amarah. Secara tidak langsung, pas kita lagi marah, begitu ditoel ama hal yang bisa bikin keki dikit aja, nongol lagi amarah yang lain. Akibatnya, amarah+amarah = 2amarah. Efek sampingnya? Kaya yang nomor satu tadi. Umur jadi singkat…

…ternyata, masalah manusia jauh lebih rumit dari perkiraan sebelumnya. Kenapa ? Mau jadi manusia yang cerdas secara emosi, harus pandai membaca manusia yang lain. Punya kelebihan akan membaca sesuatu dari orang tersebut, plus kemampuan untuk berempati – merasakan yang dirasakan orang lain. Ini kemampuan yang bisa dimiliki, bahkan sejak kecil, tergantung dari perhatian orang tuanya (nah loh. Serem ga tuh?). Tetapi, kebanyakan orang, termasuk salah satunya g, susah membaca perasaan orang lain. Kenapa ? Pendidikan plus perhatian dari orang tua, secara tidak sengaja, memberikan signal semacam itu. Seremnya, apa yang kita terima sejak kecil, bisa jadi konstanta dalam kehidupan kita – sesuatu yang sifatnya statis dan sangat sulit untuk diubah. (Gubrak, gimana nih ?). Contoh singkat : kalau pas masih anak-anak,sering dimaki-maki “tolol”, “bego”, de-el-el, de-es-te,… efeknya…ternyata menyeramkan…karena anak kaya gitu, bakalan tumbuh dewasa dengan kecerdasan emosi yang bisa dibilang parah – singkatnya, sulit punya ketrampilan emosi yang oke…

Nah bingung kan ? Sekarang baru tiga per lima buku pinjeman ini habis. Sisanya akan dilanjutkan di blogger berikutnya. See you…

Wednesday, May 12, 2004

Yang ini ditulis berdasarkan hasil perembugan antara partai Hitam dan partai Putih dalam konferensi luar biasa yang berlokasi di antara Belahan Otak Kanan dengan Belahan Otak Kiri, yang mengangkat permasalahan “Kepribadian Mana Yang Asli ?”.

Double Personality ??? Multiple Personality ??? In your own life ??? Could it be possible ??? Who knows ???

Mungkin ga seseorang itu punya dua kepribadian yang berbeda ? Dalam hal ini, ya hitam putihnya kita dan masih dalam satu jiwa… tapi, koq ga sreg rasanya yah ? Secara pribadi, terus terang gua ga nyaman dengan hal yang kaya begitu. Kenapa ? Karena itu bisa dibilang sebagai salah satu contoh plin-plan, ga ada pendirian sama sekali. Itu yang gua alami sendiri. Terkadang, gua berasa kalau gua sedang menjadi si Putih, tetapi terkadang juga bisa berasa menjadi si Hitam… Gua bingung banget sekarang. Hambatan untuk belajar satu langkah menuju kedewasaan koq seperti ini yah? Mungkin ini bentuk cobaan dari Yang Maha Kuasa, atau gua sendiri yang berasa melebih-lebihkan yah ? Gua pengen punya satu kepribadian yang ga suka berpindah-pindah, ntar kaya Two-Face di kartun Batman lagi :p. Mungkin, kalo kita lagi berasa jadi kaya si Hitam, kita sendiri lagi dikuasai perasaan BT abizzz… kayanya…

Tapi, menurut buku yang gua pinjam dari Endoch, gua itu masih tergolong normal koq. Kenapa ? Karena gua masih bisa merasakan kalau gua bisa memilih mana yang gua suka, mana yang gua ga suka. Emosi gua masih jelas dan bagus. Selama gua masih bisa mengkritik diri gua sendiri dengan suatu pernyataan yang ada dasarnya, gua masih dianggap normal. Wajar ? Yah, begitulah… tapi, aneh? Iya ga sih ?

Hmmm… Sambil denger lagu Back For Good dari Take That, gua juga masih kepengen jadi orang yang bermoral baik, tetapi ga mungkin bisa diwujudkan secara sempurna seratus persen. Remember : Nobody’s perfect. Kenapa begitu ? Mungkin kalau Endoch sendiri bisa mikir jauh-jauh soal penderitaan yang dialami orang lain, gua sendiri lebih bersikap egosentris…”Wong masalah sendiri belum selesai, ngapain susah-susah mikirin orang lain…wong edan kamu ini… Kalau kamu bisa nyari duit sendiri, nah mikirinlah mau nolong orang lain apa ndak… terserah kamu, wong duit itu duit yang kamu cari pake usaha sendiri kok…”. Aneh ga sih ?

Atau kaya Duf yang bisa memikir brainstorming setiap saat, apalagi kalau lihat orang lain yang kesusahan (di forum itu loh). Hatinya masih bisa tergerak… Nah, gua sendiri gimana ? (Sel-sel dalam otak rembug lagi…)

Klop… setelah 10 detik mikir, ada satu kalimat yang kebayang… “Gua bisa apa…prihatin sih iya, tapi gua ga bisa nolongin dia. Gua belum bisa nyari duit, tapi kalau bisa nolong, fine… gua jalanin aja deh. Kalau ga bisa, apa mau dikata…” (Rehat bentar, buat cari energi)

Yah, sekilas aja hasil rembugan antar partai kali ini…Ada yang mau berkomentar ?

Thursday, May 06, 2004

Setelah melewati pembicaraan sekitar 2 jam sama Endoch, terus baca-baca buku pinjaman dari Endoch tentang EQ, merenung di ruang kerja, berpikir-pikir tentang kehidupan, rasanya ketemu suatu sensasi yang susah untuk diungkapin apalagi dimengerti. Kenapa ? Karena kerasa satu hal yang selama ini kok rasanya berkesan negatif. Apakah itu ? Kalau menurut nalar, itu namanya emosi. Kalau dari kalian sendiri, apa yang kalian pikirkan kalau kalian mendengar kata emosi? Sesuatu yang negatif ataukah sesuatu yang positif? Dan mengapa ?

Blog Archive

About Me

My Photo
Vendy
Mellow and complicated. Not rich, and that's why he's working. Not too friendly, but he can try to be. Not talkative, but he can try to be a good listener. Searching for great jobs and great lifetime partner. Trust in both God and Luci, but sometimes too straight. Kept him away from loneliness, ignorance, clowns, and marionettes. Fragile with pure-heart children, wise parents, b/w photos.
View my complete profile

Recent Comments